arthurisme

a traveler, a backpacker, food lover

Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Februari 2013

Surga Tersembunyi Bernama Riam Berawatn

1 komentar :


Curahan air deras meluncur di antara bebatuan alam membentuk dua cabang. Bertinggi sekitar 75 meter, air terjun yang jatuh sangat indah dan membuat takjub semua mata yang melihat. Pesona alami Riam Berawatn ibarat surga yang tersembunyi di tepi lahan sawit yang terus menggerus. Pasrah sendirian mempertahankan hijau pepohonan, air yang jernih, dan pesona hutan tropis di tanah Borneo.


Kisah perjalanan menuju Riam Berawatn diawali dengan kejutan-kejutan. Dimulai dengan pesan singkat adik tingkat waktu kuliah di fakultas biologi (sekarang teknobiologi) UAJY, Rudith, yang menanyakan alamat rumah di Toho, Kalimantan Barat. Awalnya saya mengira si wedhus, panggilan akrab saya pada bocah satu itu, akan mengirimkan surat undangan pernikahan. Mengingat, si wedhus merupakan penduduk asli kota pelajar, Jogjakarta. Pesan balasan saya sertakan alamat rumah lengkap, pada Rabu (16/01, 2013) lalu.

Namun, kecurigaan saya meruncing bahwa si wedhus sedang berada di Kalbar, saat pesan balasan dari itu bocah menanyakan apakah saya ada di rumah sekitar pukul 20.00 WIB. Kecurigaan yang terbukti benar ketika Rudith mengirimkan pesan : “aku sudah di depan pemotongan ayam, dekat jembatan”.

Ternyata, si wedhus sudah dua hari berada di Kalbar. Ia bersama seorang rekan bernama Aji yang bekerja untuk satu yayasan sosial yang berpusat di Jogjakarta, dan lokasi berkaryanya berada di Karangan, kecamatan urutan ketiga di ujung kampung saya. Bidang sosial yang mereka kerjakan terfokuskan pada edukasi untuk siswa sekolah dasar dan pemberdayaan masyarakat. Kontrak kerja widhus di yayasan tersebut hingga Juni 2013. Finally, pertemuan itu berbuntut pada kata sepakat berupa adventure ke Bengkayang dan memberikan kejutan kecil untuk teman kuliah bernama Rio, yang berkerja di sana. Yeah, adventure itu akan dilakukan pekan depan, saat mereka libur.

Motorcycle Adventure

Perjalanan pun dimulai Sabtu (26/1, 2013), sore. Rencana awal akan berangkat pagi dari Toho menuju Karangan. Namun, batal karena si bungsu ada keperluan mendadak ke Pontianak, dan melaju pakai motor pagi-pagi buta. Apa mau dikata, berbalas pesan singkat di telepon genggam pun sambung menyambung menanya kabar : “jadi ndak?”. Hingga pukul 15.00 WIB, si bungsu belum juga memberi kabar akan pulang. Keputusan akhir adalah menggunakan jet cooled menuju Karangan.

Merayap pelan dengan pasti, jet cooled menjadi pahlawan kesorean yang mengantar saya berpindah tempat dari Toho ke Karangan. Tiba di rumah kontrakan Rudith dan Aji di simpang Bongol, hanya singgah tak lama. Manusia berdua itu sudah lama menanti dan langsung packing pakaian ke dalam backpack. Selanjutnya, meluncur ke pasar untuk menjemput satu rekan team mereka bernama Ella di rumah samping gereja Katolik Karangan.

Cewek satu itu mengira batal berangkat. Ia ternyata sudah leyeh-leyeh manis di tempat tidur, di rumah tantenya itu. Sukses terbangun dengan mata yang masih sipit, basa-basi sebentar dengan tantenya, perjalanan dilanjutkan kembali. Tapi, jet cooled harus dititipkan dan berganti dengan motor bebek Ella yang siap melaju, membelah jalan menjelang malam yang ditempuh sekitar 2 jam.

Empat personil dengan posisi Aji-Ella dan Rudith-Saya, menyusuri kelokan demi kelokan jalan yang kebanyakan didominasi pemandangan pepohonan hutan. Sepanjang perjalanan, saya mengabari Rio melalui pesan singkat bahwa sudah dalam perjalanan menuju Bengkayang. Tentunya, tanpa memberitahu bahwa ada Rudith and team yang turut serta.

Surprise

Gelap menjadi penanda malam yang tak bisa dielak saat memasuki Kota Bengkayang. Lokasi janji temu dengan Rio disepakati di warung kopi samping toko seluler, jalan keluar pasar tengah. Kami sengaja memperlambat pertemuan dengan mengisi kampung tengah terlebih dahulu, dan membiarkan Rio menunggu sejenak.

Lokasi kuliner berada di warung makan chinesse food, ruko nomor dua setelah tikungan pertama sebelah kiri dari jembatan pasar. Pilihan diamini bersama setelah kami tidak menemukan warung makan chinesse food lain yang buka, selain warung makan padang. Nasi goreng dan nasi cap cay menjadi menu makan malam kami di warung itu. Sambil menunggu makanan, ternyata Rio mengirim pesan pada Rudith yang mengabari jika saya berkunjung ke Bengkayang, dan dirinya sedang menunggu di warung kopi. Pesan singkat yang awalnya bermaksud sombong bakal reunian kecil. Padahal, Rio belum tahu kalau sedang dikerjai.

Makanan tersaji tak begitu lama. Rasa masakan lumayan enak, namun tidak begitu delicious. Daging dalam makanan masih terasa alot dan sulit dikunyah. Berhubung lapar, cara langsung telan menjadi solusi utama dari pada harus di buang. Karena, harga seporsi makanan lumayan mahal. Berkisar 17 – 19 ribu perak, belum termasuk harga segelas es teh.



Beres membayar makanan, kami langsung menuju lokasi pertemuan dengan Rio. Dan…., hula….saat motor kami sudah sampai di depan warung kopi, Rio cuma bisa bengong kaget sambil berkata : “Lha, kan barusan aku sms situ (Rudith). Kok bisa ada di sini? Aku kira situ di Jogja. Bajingan!” huahahaha….puas banget berhasil mengejutkan manusia satu itu!!!!

Acara dilanjutkan ngupi-ngupi di pinggir jalan sembari kembali mengungkit cerita konyol masa kuliah. Tentunya, sambil nelpon beberapa teman akrab dengan maksud untuk membuat mereka iri akan pertemuan kami. Malam semakin larut, kopi habis, speak-speak sudah berujung pada kesepakatan untuk adventure bareng menuju Riam Berawatn pada Minggu (27/1, 2013). Air terjun yang belum pernah kami semua kunjungi sebelumnya. Acara perpisahan dilakukan dengan acungan jari tengah karena Rio harus pulang ke rumah tunangannya di Sentagi, sedangkan kami harus melipir tak jauh ke jalan arah Singkawang, ke rumah nenek di Desa Ketiat, Sungai Raya.

Tanah Merah Hingga Hiking Route

What is the real adventure? Bagi saya adalah saat kita belum mengetahui lokasi yang dituju, seperti apa medannya, seberapa jauhnya, jalanan rusak, dan sport jantung. Namun, hasil akhir adalah surga! Adventure Riam Berawatn pun dimulai. Berbekal sedikit informasi mengenai lokasi, saya menjadi penunjuk jalan. Terus terang, saya juga buta tentang riam itu. Keinginan besar untuk melihat secara langsung keindahan Riam Berawatn bermula dari postingan foto di fesbuk dari akun teman. Keelokan riam membuat saya terus mengompori anggota team adventure itu untuk maju terus pantang mundur. Meski buta lokasi, setidaknya masih bisa bertanya pada penduduk agar menghindari akibat dari peribahasa “Malu bertanya sesat di jalan”.

Motor dipacu kencang dari Bengkayang menuju arah Seluas. Menurut penduduk setempat yang kami tanyai, simpang lokasi Riam masih berjarak sekitar 10 kilometer dari pasar Sanggau Ledo. Tepat di pinggir jalan sebelah kanan, ada papan nama dari besi sebagai penanda jalan masuk menuju riam.

Jalanan aspal mulus berubah menjadi batu kasar yang melapisi jalan tanah. Pemandangan di tepi jalan berupa kebun masyarakat yang sangat subur dan hijau. Pegunungan yang berjejer juga menjadi pelengkap pesona keindahan sepanjang perjalanan. Sempurna!


Merasa sudah jauh berjalan namun belum juga ada tanda-tanda keberadaan Riam, kami berhenti di satu rumah penduduk untuk bertanya. Hasilnya? Perjalanan masih jauh. Sekitar 7 kilometer perjalanan lagi yang harus ditempuh. Bonus kagetnya adalah : jalan berupa tanah merah dan menembus lokasi kebun sawit. Setelah itu, musti jalan kaki mengikuti hiking route. What the eF?

Tekad sudah bulat. Semua sepakat untuk terus melanjutkan perjalanan. Lagi pula, nanggung jika harus mundur. Sudah terlanjur menceburkan diri melewati jalanan berbatu. Setelah mengisi bensin di kios kampung terdekat yang diberi bonus ‘peta buta’ dari si penjual, kuda besi meraung di jalan berupa tanah merah.


The real motorcycle adventure dimulai ketika harus melewati dua jembatan kayu yang sedikit membuat ngeri. Plus, beberapa jalan yang becek dan membuat motor amblas. Plus lagi kiri kanan tanaman sawit yang membuat ‘peta buta’ oleh-oleh dari penjual bensin terlihat tidak berguna sama sekali. Tidak ada petunjuk apapun selain tanaman sawit. Beuh!

Beruntung, ada seorang penduduk yang mengendarai motor dan berpapasan di jalan, yang kami mohon berhenti sebentar untuk bertanya. Penduduk yang ternyata bernama Pak Kompot itu dengan murah hati memberitahu letak air terjun dan bersedia mengantarkan kami hingga lokasi pemberhentian menyimpan motor, yang selanjutnya harus berjalan kaki.


Jalur hiking itu berupa jalan setapak yang biasanya dilalui oleh penduduk setempat untuk berkebun atau berladang. Bermodalkan insting adventure dan mana duli, kami menapaki jalan setelah mengucapkan terima kasih pada Pak Kompot. Metode mematahkan batang tanaman perdu di setiap lintasan, dilakukan sebagai penanda jalan agar tidak tersesat. Hutan, padang ilalang, hingga mentok di jurang dengan bunyi debur air memberi sinyal bahwa air terjun sudah dekat.

Pepohonan tinggi dan masih terjaga dengan baik membuat perjalanan kami sangat teduh. Meski nafas mulai tersengal-sengal, tak membuat langkah kaki terhenti. Jalan menunjukkan rute berkelok dan menurun diantara bebatuan besar yang ditumbuhi pohon rimbun. Hingga, tampak aliran air jernih berkilau tertimpa sinar matahari. Sangat indah!


Kata “amazing” terucap guna mengagumi pemandangan menakjubkan di depan mata. Walau lelah, pesona air terjun Riam Berawatn mampu menghapus itu semua. Tidak ada sampah di situ yang menandakan bahwa lokasi air terjun sangat jarang dikunjungi oleh orang-orang dari luar daerah. Kami merasa sangat beruntung bisa melihat secara langsung pesona indah ciptaan sang Kuasa. Suatu adventure yang berujung surga!

Sabtu, 02 Februari 2013

Cheap Traveling Ke Kebun Durian

Tidak ada komentar :


Ibarat pepatah banyak jalan menuju Roma, banyak cara pula untuk melakukan traveling saat kondisi bokek. Meski tak bisa ‘cuci mata’ melihat keindahan kota lain atau menyusuri jalan mancanegara, setidaknya bisa memandang dan menghirup aroma segar tumbuhan hijau. Yeah, cheap traveling ala saya adalah dengan bermalam di pondok kebun durian kakek, di bukit Pak Ona.


Perjalanan menuju bukit dilakukan setelah maghrib. Berbekal senter sebagai penerang untuk menembus malam, langkah kaki menapak laju jalanan menanjak menuju bukit, dari kampung Pak Ona. Om Jamin, tante Lia, saya, dan sepupu bernama Joe, tak banyak bicara. Jarak pandang yang terbatas dan jalan yang curam, harus mendapat perhatian penuh. Salah menjejakkan kaki, bisa berguling sampai ke bawah. Sangat berisiko. Lagi pula, tanaman hutan yang cukup tinggi dan sisa batang pohon besar yang tumbang melintang di jalan, bertebaran sepanjang perjalanan.

Tak banyak yang bisa dilihat dalam perjalanan malam. Hanya bunyi hewan hutan seperti jangkrik dan kodok yang menjadi musik alam menemani langkah kaki. Sesekali, aroma buah hutan seperti asam dan Cempedak yang berbau harum, terhidu indera penciuman. Jalur hiking melelahkan menuju pondok durian berakhir sekitar 3 jam perjalanan, saat aroma buah Durian mendominasi penciuman. Pondok yang dibangun dari kayu dan bambu, terlihat dalam bias keremangan lampu senter.


Pondok sederhana itu menjadi tempat berteduh sambil menunggu buah Durian yang jatuh dari pohonnya. Atap dan dinding pondok dibuat menggunakan helaian daun hutan yang dianyam menyilang. Tungku api untuk memasak dan menghangatkan badan, dibuat dari susunan batu. Usai rehat sejenak, om Jamin memasak air untuk membuat kopi.

Sambil menunggu air mendidih, Joe berjalan sekitar pohon durian untuk mencari buah yang jatuh. Beruntung, ada 6 buah yang ia temukan dan menjadi santapan kami. Menurut om Jamin, ada sekitar 20 pohon durian yang ada di situ. Namun, hanya 4 pohon saja yang masih banyak buahnya. Pohon lain sudah habis buahnya sekitar November 2012 lalu.


Air mendidih dan seduhan kopi tersaji di pondok. Perpaduan antara kopi dan buah durian, menjadi santapan klop mengusir dingin. Om Jamin bercerita, hanya pohon durian milik kakek yang tersisa di bukit itu. Sedangkan milik penduduk lain, sudah ditebang untuk dijual dan dijadikan bahan bangunan, saat penebangan marak diawal tahun 2000-an. Kata menyesal memang selalu datang terlambat. Saat durian sedang musim, penduduk yang dahulu menebang pohon duriannya tidak bisa merasakan nikmatnya buah tersebut.

Beberapa kali terdengar bunyi durian jatuh disela-sela om Jamin bercerita. Bunyi tersebut sangat khas. Terutama bunyi gesekan buah dengan dedaunan sebelum membentur tanah. Joe bergegas menghampiri asal bunyi gedebuk, saat buah durian ‘mencium’ tanah. Tangannya menjinjing buah durian, saat kembali ke pondok.

Saat jam menunjukkan pukul 24.00 malam, om Jamin menyuruh kami tidur. Penerang hanya berupa lampu minyak tanah dari bekas botol minuman. Dingin ditemani bunyi hewan hutan malam dan buah durian yang jatuh, menjadi musik pengiring beristirahat.

Pohon Besar Rindang dan Sumber Air

Udara yang teramat dingin membuat saya terjaga dari tidur di pagi hari. Matahari masih belum menampakkan wujudnya di langit yang bersih. Namun, pemandangan indah berupa pepohonan besar yang rindang dan tinggi sangat memesona. Suatu kekayaan tak ternilai harganya untuk hutan tropis yang ada di bumi Borneo. Ternyata, om Jamin sudah terjaga lebih dulu. Ia langsung memasak air untuk membuat kopi.


Usai menghabiskan kopi di gelas, ia mengajak saya menuju sumber air yang ada di bukit itu. Ajakan yang tidak saya tolak untuk melihat-lihat keindahan hutan. Sambil membawa jeriken kecil, kami menyusuri jalan hutan yang menurun. Sekitar 20 menit perjalanan, lokasi sumber air sudah kami datangi. Sumber air itu tak mengalir banyak dan ditampung menggunaan sebilah bambu yang dibolongi bagian tengah ruasnya. Selain untuk diambil airnya untuk minum, mandi juga dilakukan di situ. Usai bersih-bersih dan menampung air, kami kembali berjalan menuju pondok.


Saat melewati pohon durian, kami mengawasi sekitar untuk melihat buah yang jatuh saat terlelap tidur. Ternyata, banyak juga buah yang tergolek di antara semak. Ketika dikumpulkan, sekitar 30 buah durian yang kami temukan. Sebagai orang yang sangat gemar buah durian, beberapa diantaranya menjadi santapan saya. Daging buah durian terasa lebih manis dan nikmat saat baru jatuh. Sambil menyantap durian, Tante Lia menjadi koki dengan mengolah mi instan yang dicampur kacang panjang dan wortel. Hanya berbumbu garam dan cabai, masakan ala kadarnya itu menjadi teman nasi yang sangat nikmat.


Sesi foto-foto di sekitar pondok menjadi agenda kami setelah sarapan. Sedangkan om Jamin sibuk menyusun buah durian yang tersisa di dalam tangkin (anyaman bambu atau rotan yang digunakan untuk wadah menyimpan barang). Ia turun pulang duluan sambil membawa buah durian, yang kami susul saat matahari sudah tinggi.


Ternyata, traveling ke pondok durian sangat menyenangkan. Hanya bermodal dana sedikit, bisa untuk menikmati pesona pepohonan tinggi dan menghirup segar udara hutan tropis Borneo. Tertarik untuk mencoba? Ayo ikut saya saat musim buah durian berikutnya.

Selasa, 15 Januari 2013

Ribetnya Buat Video Journey @IniBaruHidup

Tidak ada komentar :
Awal Desember 2012, mata saya terpaku pada satu iklan di Facebook yang mengabarkan diadakannya kontes Nescafe Journey 2, dimana juaranya bisa keliling Indonesia. Sebagai penggila traveling dan senang akan tantangan dengan mengunjungi tempat baru, iklan tersebut saya klik dan ikuti, tentunya dengan semangat ’45 yang membara. Setelah membaca aturan dan mendaftar sebagai peserta kontes, saya memilih Nicholas Saputra sebagai aspirer untuk menjalankan misi exploring youth culture. Kenapa? Bagi saya, budaya adalah cermin Indonesia yang indah, subur, ramah, dan luas. Sehingga, mengenal anekaragam budaya yang tersebar seantero Indonesia ibarat mencoba mengenal diri sendiri. Mengenal lebih dekat kepala, leher, badan, tangan, hingga kaki. Membayangkan semua anggota tubuh itu seperti budaya yang ada di Indonesia, yang menjadi satu membentuk tubuh berwujud saya.

Alasan lain saya tidak memilih dua aspirer lain adalah, misi ‘save shark’ yang diberi Rayani Djangkaru sangat sulit untuk dilakukan. Terbatasnya waktu dan keadaan saya yang tinggal di desa, sangat sulit untuk mengubek-ubek Kalimantan Barat dalam mencari semua hal yang berkaitan dengan tema. Kecuali, browsing internet, yang sama saja artinya dengan tidak menjalankan misi. Sedangkan misi ‘meeting new people’ yang diberi Imam Darto, sudah sering saya lakukan. Contohnya, sebagai wedding fotografer amatiran pemula tingkat kampung, saya terkadang berbincang dan memotret orang yang belum saya kenal sebelumnya. 

Misi exploring youth culture yang saya sertakan dalam kontes Nescafe Journey 2 adalah tulisan serta foto budaya Nyempaok dan Perahu Tambe. Nyempaok adalah mencari ikan di sungai atau lahan berair yang mengering secara beramai-ramai, yang dilakukan oleh anak-anak hingga orang tua, penduduk bersuku Dayak Bakati. Momen ini saya temui saat berkunjung ke rumah nenek di Bengkayang. Sedangkan Perahu Tambe adalah budaya Dayak Tamambaloh di Kapuas Hulu, yang merupakan acara adat penyambutan bagi anggota keluarga baru dalam pernikahan, atau penyambutan bagi tamu baru yang datang ke kampung tersebut.

Dua foto dan tulisan tersebut berujung pada ‘email cinta’ yang baru saya lihat pada 14 Desember 2012, malam. Email yang mengabarkan bahwa saya lolos sebagai satu dari 60 orang Sobat Journey Nescafe aka @IniBaruHidup, yang masuk ke tahap berikutnya, untuk membuat video dengan durasi 5 menit yang diunggah di Youtube. Tugas yang membuat saya puyeng tujuh keliling karena deadline hingga 17 Desember 2012, pukul 18.00 WIB. Aaarrrrggghhhh….siapa yang bisa bantu shooting video untuk saya di kampung ini????

Menuju Menjalin

‘tunggu video saya’, itu yang saya posting di status Facebook. Meski bagaimana pun, usaha untuk membuat video musti terlaksana. Bayangan akan traveling keliling Indonesia sudah membentang di depan mata, bak wanita cantik minta dipinang. Video harus siap sebelum deadline! Permasalahannya adalah siapa yang mau bantu shooting, pakai alat apa, dan konsep videonya apa? HUH, gak ada tugas yang lebih gampang po? Nulis artikel, misalnya! 

Pusing mikir, akhirnya dapat pula solusinya. Pas ngobrol dengan si bontot, tu adik tersayang mengajukan pacarnya untuk bantu-bantu. Kebetulan, pacar si bontot punya handycam. Tanpa membuang waktu, pacar si bontot yang menetap di kampung ujung yang berbeda kecamatan dengan saya, langsung dihubungi. Hasilnya? Janjian ketemuan tanggal 15 Desember 2012 di kampung pacar si bontot, untuk ngomongin konsep video. Really love you, God!

Sabtu siang yang cerah tertanggal 15 Desember 2012. Motor Jet cooled meluncur pelan dari jalanan Pasar Toho menuju Menjalin. Kamera yang baru dibeli 5 bulan lalu, dibawa serta untuk antisipasi bila diperlukan. Dalam benak sudah ditanam niat : hari ini video harus kelar! Mengingat harus diunggah di Youtube. Sekitar satu jam perjalanan, Jet Cooled berhenti di depan satu bangunan, dekat jejeran jeriken bensin eceran. Bangunan semen yang tak terlalu luas itu memang menjadi bangunan untuk menjual jasa ‘ada banyak’. Maklum, di kampung. Satu tempat yang menawarkan jasa pengetikan, ngeprint, foto, hingga menjual bunga hasil kerajinan tangan dan bensin. Yordan, pacar si bontot, terlihat sedang mengetik di depan laptopnya. Melihat calon abang ipar datang, ia menghentikan ketikan dan mengambil bangku plastik dari ruang samping. Usai mempersilakan duduk, ia membuat segelas kopi. 

“Konsepnya apa, bang?”

Pertanyaan Yordan kujawab dengan bahu yang terangkat dan kedua tangan terbuka ke atas. Sama sekali belum tahu konsep dari video tersebut. Saya hanya membayangkan, ia meng-shoot saya di lokasi betang (rumah panjang) Menjalin. Itu saja.

“Siap, selesai ngopi, kita berangkat,” katanya.


Making the video

Sambil ngopi, Yordan mengemaskan handycam dalam tas. Saat saya menyeruput cairan kopi terakhir, ia menutup pintu lipat kayu tokonya. Kami menuju betang yang berjarak sekitar 15 menit berkendara dari toko tersebut. Jet Cooled masih menjadi partner setia menuju lokasi itu. 

Tepat di lapangan bola, motor yang kami kendarai berbelok menuju jalan ke betang. Rumah panjang suku Dayak yang dibangun sejak 1995 untuk acara adat Naik Dango itu, masih berdiri megah dan terawat. Sayang, sampah plastik yang bertebaran di belakang betang, mengganggu keindahan pemandangan.

Ini merupakan pertama kalinya saya mengunjungi betang di Menjalin. Beruntung, pintu betang terbuka semua karena ada kegiatan pemilihan Dewan Adat Dayak di Menjalin, sehingga saya bisa melihat-lihat isi di dalam bangunan. Dan hulaaaa….saya bertemu Pak Camat yang dulunya adalah guru SMA saya. Ngobrol-ngobrol sejenak dengan beliau, sambil menceritakan maksud tujuan berada di betang. Jangan sampai, beliau dan orang yang ada di betang sampai ‘salah mengira’ melihat kami membawa handycam.


Pengambilan gambar pun dimulai saat Pak Camat pamit pulang. Bagian dalam dan luar betang menjadi latar saya dalam video. Beberapa kali harus take ulang karena saya tak mampu menahan tawa, lupa apa yang mau diomongkan, dan gangguan dari pengurus betang yang sedang beres-beres ruangan. BAH!. Karena sudah sore, shooting dihentikan dan akan dilanjutkan lagi esok hari, di lokasi persawahan dan hutan yang ada di desa Pak Ona, Toho.

Jujur, selama perjalanan pulang dari Menjalin-Toho, saya khawatir akan nasib video tersebut. Besok hari Minggu, yang berarti satu hari sebelum batas terakhir pengiriman. Shooting belum kelar. Belum lagi ditambah untuk mengedit. Kekhawatiran utama adalah listrik mati. Laptop si Yordan error baterainya. Jika listrik mati, tu laptop ikutan juga. Maklum, nyawa tu laptop seiya sekata dengan nyawa si listrik. Beuhhhhh… Sangking kepikiran terus, saya pun sukses tidak tidur semalaman. Viva kopi!!!!!

Saat nyokap dan si bontot ke gereja pukul 09.00 WIB, saya pun berkelana menuju desa Pak Ona. Kebetulan si Yordan udah ngetem di rumah pamannya di sana, setelah malam mingguan dengan si bontot. Tanpa banyak membuang waktu, kami berjalan kaki menuju persawahan yang harus melewati rimbunan hutan dan kebun durian penduduk setempat. Beruntung hari cerah. Sehingga, proses pengambilan gambar pun tidak terganggu. Pukul 13.15 WIB, kami sudah menyelesaikan shooting.

Kerut kening pun dimulai saat proses editing di rumah paman si Yordan. Bertemankan kopi dan sebaskom buah rambutan, pilah-pilih gambar dan pencocokan lagu membuat kepala saya mulai terasa nyut-nyut. Penderitaan yang komplit. Bukan perkara mudah untuk mengedit video bagi saya dan Yordan yang masih amatir. Proses kerut kening itu pun selesai pukul 21.00 WIB, dimana saya langsung pamit untuk mengunggah ke Youtube di rumah, menggunakan bantuan notebook dan modem. Sekitar pukul 22.00 WIB, video saya sudah terpasang di Youtube dan bisa tidur pulas di hari Senin tanpa memikul beban khawatir. :D Finally, I Am Not Win the Contest

Bagi saya, video tersebut bisa menjadi kado natal yang menanti pengumuman pemenangnya di tanggal 7 Januari 2013. Usaha ‘merayu’ teman-teman di facebook untuk memberi rekomendasi, terus dilakukan hingga sehari sebelum pengumaman. Tentunya sesuai ‘anjuran’ dari aplikasi @IniBaruHidup.

Dag dig dug duer dalam hati menanti pengumuman pemenang, yang dengan harap-harap cemas saya lihat secara perlahan di halaman Nescafe ID di facebook. Dan akhirnya, saya tidak menang dalam kontes tersebut. Tapi, setidaknya saya sudah berusaha untuk menang, walau tidak menang. Hingga, saya selalu risau dan mupeng tiap kali membuka aplikasi itu dari akun facebook saya. 

Ya, finally I am not win the contest. How poor i am. :D

Selasa, 18 Desember 2012

Cucur Mawar, Petuah dan Restu untuk Pengantin

Tidak ada komentar :
Menjadi wedding photographer tingkat kampung yang baru dijalani, membuat saya bisa mengabadikan momen budaya dan adat istiadat, yang mungkin saat ini jarang sekali dilakukan oleh penduduk kota yang hidup lebih modern. Satu momen itu adalah cucur mawar. Suatu budaya suku Melayu yang ada di Kalimantan Barat, yang saya abadikan pada Sabtu (8/12) lalu.


Sejatinya, cucur mawar adalah petuah, doa, dan restu dari orang-orang yang dituakan dalam keluarga, kepada pasangan pengantin yang baru saja mengikat janji sehidup semati dalam ijab kabul.

Prosesi cucur mawar dilakukan dengan sederhana dan khidmat, dimana pasangan pengantin menerima curahan air wewangian sari bunga dan taburan osengan beras baru.

Seraya mencurahkan air wewangian dan taburan osengan beras baru itu, para orang tua yang berasal dari keluarga kedua mempelai memberikan petuah tentang hidup, doa, dan restu tulus dalam menerima anggota keluarga yang baru.

Usai menerima petuah, doa, dan restu, pasangan pengantin melakukan sungkem, sebagai tanda bahwa mereka menerima sepenuhnya petuah-petuah bijak yang diberikan kepada mereka, dan siap mengarungi bahtera rumahtangga.

Momen ini sangat menarik bagi saya, dimana budaya dan adat istiadat yang tertuang dalam acara cucur mawar itu penuh dengan makna hidup akan tali silaturahmi dan cinta. Suatu cinta yang menggabungkan dua keluarga berbeda, menjadi satu ikatan kekerabatan yang sangat erat.

Senin, 31 Oktober 2011

Randayan, Pesona Biru Pulau Pribadi

Tidak ada komentar :
Air laut yang biru, hamparan awan dan pasir putih, semilir angin pantai, dan pulau pribadi! Menu komplit yang tidak ingin Anda lewatkan, bukan? Sensasi yang bisa Anda dapatkan di pulau pribadi bernama Randayan. Sensasi tersendiri saat menikmati suguhan keindahan panorama pulau yang teduh dan tenang, yang membuat Anda merasa sebagai pemiliknya.

Kapal motor berayun di atas gelombang air laut yang biru, Sabtu (6/8). Putaran kipas mesinnya meninggalkan jejak berupa buih di bagian buritan. Buih seperti air sabun untuk bermain gelembung udara, yang sesekali dilintasi serombongan ikan laut berwarna-warni yang berenang di permukaan air.


Angin dengan aroma yang khas menjadi teman perjalanan membelah laut sekitar 1,5 jam atau 38 kilometer dari dermaga Teluk Suak, serta melewati dua pulau, Penata dan Lemukutan. Bila angin laut bersahabat, penduduk pulau yang rata-rata bermatapencaharian sebagai nelayan akan mencari ikan atau menuju bagan untuk mempersiapkan jala. Bagan-bagan itu dibangun para nelayan di pesisir pantai.


Bagan adalah pondok kecil beratap daun yang dibangun dari batang kayu Nibung. Pondok ini digunakan nelayan untuk menjala ikan, yang biasanya dilakukan di malam hari dengan bantuan penerangan sinar lampu templok atau senter. Dari dalam bagan, nelayan mengulurkan jala yang diikat seutas tali di setiap sisinya. Tali-tali tersebut disimpul menjadi satu agar mudah ditarik saat jala terisi ikan.

Bila dilihat dari jauh, bagan tampak menyerupai piring terbang di atas permukaan air laut atau laba-laba air raksasa yang sedang diam dan berkelompok. Saat malam hari, lampu dari bagan tampak seperti liukan sinar yang menari tertiup angin. Suatu pemandangan menakjubkan akan lukisan nyata kehidupan khas para nelayan di kanvas alam pesisir pulau.

Para nelayan sangat ramah kepada pengunjung. Bila berpapasan dengan para nelayan, mereka melambaikan tangan dan tersenyum kepada penumpang kapal motor. Bahkan, bila hasil ikan melimpah, nelayan akan menawarkan ikan segar dengan harga murah, untuk dipanggang sambil duduk-duduk di pasir pantai.

Pasir Karang Putih

Saat tiba di Pulau Randayan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Anda disambut dengan stegher kayu dan lambaian daun kelapa yang tertiup angin. Tiket masuk ke pulau dengan luas sekitar 487 hectare ini sebesar Rp 10 ribu per orang. Pulau ini dilengkapi pula dengan lima villa dan satu bangunan penginapan family yang menghadap ke laut.


Pantai di pulau Randayan memiliki pasir karang putih di sepanjang pantai. Aktivitas yang bisa dilakukan di pantai adalah snorkeling, diving, dan mengikuti irama ombak dengan canoe. Pengelola juga mengizinkan pengunjung yang ingin berkemah, dengan memasang tenda di lapangan dekat bibir pantai. Keindahan dunia bawah air Pulau Randayan sangatlah menakjubkan. Warna-warni terumbu karang dipenuhi dengan beraneka ragam jenis ikan laut yang berenang lincah dijernihnya air. Tidak heran bila pulau ini dijadikan tujuan utama para pencinta selam yang ingin menikmati kekayaan panorama bawah laut di Kalimantan Barat.

Ombak pantai yang tidak begitu keras sangat aman untuk bermain-main menggunakan canoe. Bila terasa letih, Anda bisa beristirahat sejenak di dipan santai dari kayu, di bawah pohon ketapang yang rindang. Angin pantai yang berhembus sepoi-sepoi, birunya air laut nan jernih, dan hijaunya pemandangan dari Pulau Lemukutan, dapat mengajak Anda beristirahat sejenak ke alam mimpi.


30 Menit Keliling Pulau

Bosan bermain-main di air dan ingin melakukan kegiatan seru di sepanjang pantai? Coba saja jalur trekking. Jalan batu pantai hitam mengkilap yang disemen akan menemani langkah kaki Anda mengelilingi Pulau Randayan dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Tak banyak panorama indah yang bisa dinikmati di jalur trekking. Hanya tumbuhan perdu khas daerah pantai, barisan pohon kelapa, dan batu-batu besar penahan debur ombak. Karena, jalur trekking baru saja dibuat dan masih setengah jalan. Sisa jalan lain harus ditempuh dengan menyusuri bebatuan besar.


Namun, ada batu besar nan luas yang disebut batu rakit dan menjorok ke bibir pantai. Bentuk rakit pada batu merupakan bentukan alami dari hempasan ombak yang mengenai bagian tepi batu, sehingga tampak seperti rakit yang sedang ditambatkan di tepi pantai. Dinding batu membentuk lapisan-lapisan dengan jarak antaranya berkisar beberapa centimeter saja.

Walau hanya hamparan batu, lokasi ini sangat tepat untuk menikmati sunset. Terlebih saat matahari berwarna jingga keperakan dan secara perlahan menghilang di batas cakrawala. Ukuran matahari yang besar dan pantulan warna di cermin permukaan air akan membuat Anda berdecak kagum dengan penuh syukur karena telah menyaksikan kreasi Pencipta yang begitu sempurna.


Mancing, euy

Anda juga bisa melampiaskan hasrat memancing di laut biru nan luas saat traveling ke Pulau Randayan. Namun, bila Anda sudah merencanakan memancing dalam agenda traveling ke pulau pribadi ini, harus menyiapkan dana lebih untuk menyewa kapal motor yang akan mengantar Anda menuju lokasi ditemukannya banyak ikan berdasarkan pengalaman para nelayan yang diceritakan pada para nahkoda kapal.


Menyewa kapal motor untuk memancing tidak bisa mendadak dilakukan. Anda sudah harus menyewa saat pertama kali akan berangkat dari dermaga ke Pulau Randayan. Karena, kapal motor berpenumpang biasa (tidak menyewa) yang bersandar ke pulau ini tidaklah lama. Nahkoda kapal harus kembali ke dermaga untuk mengangkut penumpang dan barang yang sudah dipesan untuk diantar ke pulau setiap harinya.


Nah, tertarik untuk merasakan nikmatnya traveling di pulau pribadi? Bagaimana jika Anda datang sendiri untuk mencobanya. Siapa tahu, suatu saat Anda juga bisa memiliki satu pulau yang bisa dikelola sendiri. Selamat ber-traveling.

Selasa, 25 Oktober 2011

Jogjakarta, Keramahan Wisata Dalam Budaya

Tidak ada komentar :
Sugeng rawuh. Tepat sekali Anda memilih Jogjakarta ke dalam daftar kunjungan untuk berwisata. Kota pelajar dengan luas 3.185,80 Km2 ini, akan memukau Anda dengan pesona dan keramahannya. Masih memegang teguh budaya, Jogjakarta seakan mengajak Anda memasuki alam tradisional dalam kumparan dunia modern.

Adat istiadat nya masih sangat kental dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, yang tetap menjaga dan melestarikan budaya peninggalan ratusan tahun silam. Jogjakarta akan mengajak Anda dalam kehidupan tradisional yang back to nature. Suguhan bangunan lama yang masih terawat dengan baik, didukung dengan pemandangan keindahan alami.
Awali wisata Anda untuk melihat daerah istimewa Jogjakarta dalam balutan peninggalan sejarah tradisional kerajaan. Ayunkan langkah Anda menuju Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dibangun pada tahun 1756 M atau 1682 untuk tahun Jawa. Saat berkunjung di lingkungan The Imperial House, Anda akan melihat display pakaian tradisional, senjata, dan kereta kuda yang pernah digunakan oleh raja-raja Jogjakarta.

Biasanya, pengunjung ramai mendatangi alun-alun utara Kraton Jogjakarta untuk mencoba peruntungan berjalan di tengah dua pohon beringin besar bernama Kyai Dewandaru dan Kyai Wijayandaru. Konon, siapa yang bisa lolos berjalan melewati pohon beringin kembar itu dengan mata tertutup, permohonannya akan terkabulkan.

Anda juga bisa berkunjung keTamansari yang dibangun di masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I, pada tahun 1758 dengan seni arsitektur Eropa yang dilengkapi makna simbolik Jawa melalui ukiran pada bangunannya. Dahulu lokasi ini adalah pesanggrahan untuk pertapaan raja Jogjakarta dan keluarga, dilengkapi dengan kolam pemandian.

Arsitektur Eropa dapat pula Anda jumpai saat berkunjung di museum Benteng Vredenburg yang didirikan pada tahun 1765, gedung Bank Indonesia, dan kantor pos Jogjakarta. Wisata ini dapat Anda lakukan dengan menumpangi andong atau becak.

Peninggalan sejarah banyak ditemukan di sekitar Kota Jogjakarta berupa candi-candi yang menakjubkan dan menjadi saksi bisu catatan sejarah yang pernah terjadi. Anda akan dibuat takjub saat menyaksikan kekokohan candi Borobudur. Candi Budha abad ke-9 yang dibangun oleh Raja Samaratungga dari kerajaan Mataram kuno keturunan Wangsa Syailendra ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa. Saat berada di tingkat teratas candi ini, Anda akan melihat pemandangan hijau di sekeliling candi.


Ada pula candi Hindu yang dibangun oleh Raja Rakai Pikatan dan Rakai Balitung di abad ke-10, yakni candi Prambanan. Legenda terkenal dari candi ini adalah permintaan putri Roro Jonggrang kepada Bandung Bondowoso untuk membangun candi dengan 1.000 arca dalam semalam sebagai bukti lambang cinta. Saat ini, Candi Prambanan dilengkapi dengan Taman Ramayana, berupa panggung pertunjukan untuk pewayangan orang.

Menurut cerita dari mulut ke mulut, pengunjung candi yang sedang berpacaran akan putus bila berkunjung di candi ini. Betulkah? Anda mungkin bisa membuktikannya sendiri. Candi lain yang bisa dikunjungi adalah Plaosan, Sambisari, Mendut, Pawon, dan Istana Ratu Boko.

Ingin menikmati keindahan alam Jogjakarta? Silakan berkunjung ke Pantai Parangtritis yang berjarak sekitar 30 Km dari Kota Jogjakarta. Pantai dapat ditempuh menggunakan bus dengan biaya Rp. 7.500 per orang. Pasir Pantai Parangtritis yang lembut di kaki akan membuat Anda lupa waktu saat bermain bersama debur ombaknya. Pantai lain yang juga bisa Anda kunjungi adalah pantai Kukup, Krakal, Baron, Sundak, Glagah, Depok, dan Parang Kusumo.


Kota Jogjakarta juga memiliki tugu yang berada di tengah kota. Uniknya, jika ditarik garis lurus, tugu Jogjakarta berada di tengah antara Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis. Menurut lelucon di Jogjakarta, Anda belum dikatakan berkunjung di kota ini jika belum memegang tugu.

Souvenir

Tidak lengkap rasanya bila tidak membeli sesuatu yang khas saat berkunjung ke Jogjakarta. Sebagai kota wisata, Anda bisa menemukan banyak barang kerajinan unik yang diolah dari tangan terampil dan kreatif. Batik merupakan karya kreatif yang umum ditemukan di Jogjakarta. Membeli batik tidaklah sulit. Anda bisa menyusuri sepanjang jalan Malioboro hingga pasar Beringhardjo untuk berburu batik.


Baju dan souvenir yang terbuat dari batik bisa Anda beli dengan harga yang dapat disesuaikan dengan isi dompet Anda. Ukiran dari tokoh pewayangan juga dapat menjadi alternatif lain untuk souvenir dengan kekhasan yang akan mengingatkan Anda tentang Jogjakarta.

Bagi pecinta perhiasan, silakan meluncur ke pusat kerajinan perak yang terletak di Kota Gede. Anting, kalung, cincin, dan hiasan rumah terbuat dari perak asli bisa Anda dapatkan di sini. Kisaran harga per item mulai puluhan ribu hingga jutaan Rupiah. Tergantung, jenis dan bentuk perak yang Anda pilih. Ingin belajar membuat perhiasan dari perak? Biasanya, toko perak yang memiliki tempat pembuatan untuk melayani pengunjung yang ingin memesan langsung bentuk perhiasan sesuai keinginan, akan memberikan izin.

Jogjakarta juga memiliki pusat kerajinan keramik dan gerabah yang berlokasi di Kasongan. Kerajinan ini berupa patung, lampu hias, furniture, topeng, kendi, dan perlengkapan rumah. Semuanya dibuat dari tanah liat dan tentunya, menarik.

Makanan

Apakah Anda menyiapkan dana minim untuk biaya konsumsi saat berada di Jogjakarta? Jangan kuatir. Anda bisa temukan gerobak penjual makanan dengan satu bangku panjang yang menjual nasi kucing. Nasi paket hemat berbungkus daun pisang ini dilengkapi sambal ikan teri atau tempe yang dipotong kecil-kecil dan digoreng kering. Harga per bungkus nasi kusing adalah Rp. 1.500.

Warung burjo yang menjual bubur kacang hijau dicampur ketan hitam dan sedikit santan merupakan pilihan bagi para mahasiswa luar daerah yang menuntut ilmu di Jogjakarta. Warung ini juga menjual indomi rebus dan goreng, plus cemilan berupa beberapa kue yang digoreng. Mengenyangkan dan murah meriah. Pilihan lain untuk membeli makanan dengan harga terjangkau adalah pecel lele, telur, tempe, dan ayam goreng di warung tenda pinggir jalan.

Makanan khas Jogjakarta yang tidak boleh Anda lewatkan adalah gudeg. Makanan yang terbuat dari buah gori (nangka) dan diolah dengan tambahan daging ayam atau telur, akan menggugah selera makan Anda. Perfecto delicio.

Mau mencicipi makanan yang unik? Datang saja ke warung makan Jejamuran yang menjual makanan serba jamur. Menu yang tersedia adalah sate, soup, rendang, pepes, tongseng jamur, dan sebagainya. Harga jejamuran berkisar Rp. 4.000-10.000. Makanan khas Jogjakarta juga bisa dijadikan oleh-oleh untuk keluarga atau kerabat Anda.


Silakan meluncur ke daerah sejuk Kaliurang untuk mencari jadah tempe. Makanan berupa ketan dan tempe bacem ini sangat tradisional dan cocok dijadikan teman minum the panas atau kopi. Atau, datang saja ke kawasan Pathuk, Kecamatan Ngampilan, Jogjakarta. Lokasi tersebut menjual bakpia pathuk, yakni bakpia yang berisi kacang hijau. Jajanan khas lainnya yang bisa Anda temukan di situ adalah yangko, geplak, madu mongso, dan ampyang. Silakan Anda memilih.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Nasionalisme Ala Dusun Nanga Sungai

Tidak ada komentar :

Perjalanan darat selama 22 jam menggunakan kendaraan travel dari Pontianak menuju daerah hulu Kalimantan Barat, Selasa (28/6), sangatlah melelahkan. Lobang menjadi penghias jalan sepanjang ± 800 kilometer. Namun, bukan menjadi penghalang bagi saya untuk mengunjungi sebuah dusun bernama Nanga Sungai, Desa Saujung Giling Manik, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Kebetulan, kedatangan saya untuk menghadiri acara adat Mandaas, yakni acara adat melayat yang dilakukan oleh suku Dayak Tamambaloh.
Perjalanan tersebut merupakan pengalaman pertama saya menuju dusun yang berada di ujung Desa Benua Martinus. Dusun sepi dengan penerangan listrik yang berasal dari mesin genset. Sekitar 60 kepala keluarga menempati dusun tersebut, dengan mata pencaharian masyarakat sehari-sehari sebagai petani dan nelayan sungai.
Kehidupan masyarakat Dusun Nanga Sungai hampir sama seperti masyarakat pada umumnya. Pagi hingga siang hari, mereka menghabiskan waktu di sawah atau ladang. Pulang dari lahan pertanian, mereka akan mencari ikan dengan cara di pukat sembari menyusuri sungai Embaloh untuk kembali ke rumah.

Ada yang menarik di dusun ini. Meski berada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, ternyata suku Dayak Tamambaloh yang menetap di Dusun Nanga Sungai memiliki bendera sendiri. Bukan merah putih, namun bendera dengan aneka warna. Seperti kuning, merah, putih, hitam, dan hijau. Bentuk bendera tersebut pun unik, memanjang dengan ujung berbentuk segitiga penuh untaian kain seperti untaian janur kelapa.

Menurut tetua warga bernama Baki’ Tali (kakek Tali), 72 tahun, bendera tersebut merupakan bendera adat yang selalu digunakan oleh penduduk dari suku Dayak Tamambaloh sewaktu menggelar acara adat, dan sudah digunakan sejak dahulu kala. Bendera tersebut berbentuk motif dayak di tengahnya, membentuk gambar hewan, buah, atau tumbuhan. Suatu bentuk penghormatan manusia terhadap lingkungan sekitarnya.

Pemilihan warna yang digunakan untuk bendera tersebut bukanlah asal comot saja. Kuning menggambarkan kemakmuran akan hasil pertanian. Merah sebagai lambang keberanian. Putih sebagai lambing ketulusan dan keputusan bulat yang tidak bisa dilanggar. Hitam sebagai lambang perjuangan bersama-sama hingga titik darah penghabisan. Hijau sebagai wujud kehidupan yang seimbang dengan alam.

Baki’ Leo (69) mengatakan ada dua bendera yang dimiliki oleh suku Dayak Tamambaloh. Yakni, Tambe Laki (bendera laki-laki) dan Tambe Bainge (bendera perempuan). Perbedaan antara bendera ini adalah, Tambe Laki memiliki ukuran lebih panjang dibandingkan Tambe Bainge.

Bila mereka memiliki bendera sendiri, bagaimanakah sikap mereka terhadap bendera merah putih? Lunturkah rasa nasionalisme mereka akan Indonesia?

Ternyata, mereka masih mengedepankan rasa cinta tanah air. Meski sudah memiliki bendera yang mereka gunakan secara turun temurun sebelum masa kemerdekaan, suku Dayak Tamambaloh di Dusun Nanga Sungai tetap menghormati bendera merah putih. Hal itu saya saksikan saat melihat upacara adat Perahu Tambe (perahu hias), yakni upacara adat pernikahan di saat mempelai pria beserta keluarga di hulu Sungai Embaloh menggunakan perahu yang dihias menuju rumah mempelai wanita di hilir sungai. Bendera merah putih tetap berkibar paling tinggi dibandingkan Tambe Laki dan Tambe Bainge.

Bahkan, dalam perjalanan saya menuju Desa Lanjak, daerah dekat perbatasan Indonesia-Malaysia, Minggu (3/7). Dari bak belakang mobil yang saya tumpangi, dengan penuh haru saya melihat kibaran merah putih yang sudah tercabik di ujungnya, tetap berada di ujung tiang di beranda Betang (rumah panjang) yang berjarak sekitar 300 meter dari jalan raya, meski bukan tanggal 17 Agustus.







Minggu, 17 Juli 2011

Embaloh, Sungai Kaya Bernyawa di ‘Benua’ ke-7 (2)

1 komentar :

Bila Anda ingin melihat permata yang melimpah, datang saja ke Sungai Embaloh. Menyelamlah di jernihnya air sungai. Saat menyelam, buka mata Anda. Lihatlah bebatuan di dasar sungai. Bias sinar matahari yang masuk ke air sungai dan mengenai bebatuan, akan membuat bebatuan tampak seperti kemilau permata yang indah dan tak terhingga.

Kabut pagi masih menyelimuti Desa Benua Martinus, Sabtu (2/7). Selimut kabut yang saya sebut ‘paradiso benua ketujuh’ dikarenakan menghasilkan pemandangan indah di desa kecil sarat sejarah. Saya menginap di rumah kayu, tepat di pinggir jalan, samping lapangan sepakbola SD 02 Benua Martinus. Menurut indu’ (ibu/bibi) Clara, bangunan SD dan lapangan sepakbola itu dulunya adalah bekas landasan pesawat pasukan tentara Indonesia saat terjadinya GPRS-Paraku.



Mandi pagi di Sungai Embaloh merupakan sebuah keharusan. Maklum, saat tiba di sini, saya langsung menuju Dusun Nanga Sungai yang berada sekitar satu setengah jam berjalan kaki atau 30 menit bila menggunakan kendaraan roda dua, dari Desa Benua Martinus, untuk acara adat Mandaas (baca tulisan selanjutnya).

Menuju Sungai Embaloh dari rumah tempat menginap tidaklah memakan waktu yang lama. Sekitar 300 meter di belakang rumah. Cukup menyusuri jalan aspal dan mengambil jalan lurus berbatu di depan Koramil, melewati padang berpagar kawat duri, hingga menapak di bebatuan sungai yang memanjang di tepian sungai. Rimbunan tumbuhan di pinggir sungai, air jernih yang mengalir di bebatuan, suara kicau burung yang terbang bebas, menjadikan mandi pagi semakin semarak. Ditambah, ‘kecupan’ kecil di bagian tubuh dari keramahan ikan Sungai Embaloh.

Kayu besar yang terhanyut dari hulu sungai, tampak terdampar di atas bebatuan. Tidak hanya satu kayu, tapi, banyak. Kayu-kayu itu merupakan hasil dari abrasi yang terjadi di daerah hulu sungai, dan terbawa oleh air sungai. Hujan mengakibatkan arus sungai mengalir deras. Sedangkan komposisi tanah di pinggir Sungai Embaloh terdiri atas sedimen yang rapuh, hasil pelapukan kayu-kayu yang terdampar. Bila arus deras menghantam tanah di pinggir sungai, air menjadi berwarna kecoklatan karena bercampur lumpur. Satu daerah yang selalu berpindah akibat terjadinya abrasi adalah Dusun Nanga Sungai. Tidak ada yang mampu melawan kekuatan alam. Bahkan, aliran air sungai Embaloh yang tenang, seperti bernyawa. Secara perlahan, air sungai mengikis daratan di sepanjang aliran sungai.


Dusun Nanga Sungai yang saya datangi merupakan pemukiman baru bagi penduduknya. Sekitar 2008, satu persatu penduduk meninggalkan lokasi dusun mereka yang lama, yang berada sekitar dua kilometer di daerah hilir sungai. Menurut Baki’ (kakek, dalam bahasa Dayak Tamambaloh) Roreng (63), lokasi rumah yang ditempati masyarakat tersebut mulanya adalah pondok saat berladang. Tiang dari lantai rumah penduduk memang dibuat tinggi, sekitar 2-5 meter. Sehingga, setiap orang harus menaiki anak tangga untuk masuk ke rumah. Alasan penduduk membuat tiang tinggi tersebut adalah untuk terhindar dari banjir. “Jika air sungai meluap, bisa naik ke rumah,” ujar Baki’ Roreng.

Perpindahan penduduk Dusun Nanga Sungai itu bukan kali pertama. Berdasarkan penuturan Baki’ Leo (72), ini merupakan perpindahan yang keempat kalinya selama ia hidup. Selain disebabkan karena abrasi, perpindahan kali ini adalah anjuran pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu agar penduduk dapat bermukim di daerah pinggir jalan. Agar memudahkan transportasi masyarakat dan jaringan listrik bisa masuk. Namun, hingga saat ini belum ada satu tiang listrik pun yang tampak. Penduduk Dusun Nanga Sungai mengandalkan mesin genset untuk penerangan di kala malam. Itupun tidak semua rumah penduduk. Saya menghitung tak lebih dari 10 rumah yang memiliki mesin genset. Sedangkan di Desa Benua Martinus, nyala listrik berlaku setengah hari. Mulai pukul 17.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB.

Bahkan, jembatan gantung penghubung antara Desa Benua Martinus dan tiga dusun lain, yakni Nanga Sungai, Pat, dan Ulak Pauk, tampak mulai rapuh. Kayu jembatan gantung terlihat mulai lapuk. Tali kawat di kiri-kanan jembatan gantung, ada yang putus. Padahal, jembatan itulah satu-satunya sarana yang memudahkan penduduk tiga dusun untuk melintasi Sungai Tamao. Menurut penduduk Dusun Nanga Sungai M. Rayung, jembatan tersebut berumur belum genap setahun. Karena pengerjaan jembatan gantung berakhir sekitar September 2010.

Berdasarkan penuturan Rayung, jembatan tersebut dibuat dengan dana bantuan pemerintah daerah. Dari pengajuan Rp. 22 juta yang diajukan, kucuran dana yang disetujui dan diberikan ke masyarakat adalah Rp. 18 juta. “Sayang, baru setahun jembatan sudah rapuh,” sesal Rayung.

Bisa dibayangkan, bila jembatan gantung tersebut rusak dan putus, akses jalan darat penduduk dari tiga dusun bisa terganggu. Bila harus menggunakan sampan melalui jalur Sungai Embaloh, butuh tenaga super ekstra untuk melawan arus sungai menuju pusat kecamatan di Desa Benua Martinus.

Apalagi bila menggunakan perahu mesin, butuh dana besar untuk membeli bahan bakar. Seliter bensin di Benua Martinus mencapai harga Rp. 9.000.

Jumat, 15 Juli 2011

Saguer, Sambutan Khas di Tamambaloh (1)

Tidak ada komentar :


Mobil berhenti di sebuah jembatan gantung yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki, Selasa (28/6) malam. Satu persatu, langkah kaki menapak di jembatan yang melintasi Sungai Tamao dengan panjang sekitar 10 meter. Saat dilewati, jembatan bergoyang dan papan kayu berbunyi ‘kretak’. Beberapa utas kawat di kedua sisi jembatan terlihat ada yang putus. Dengan penerangan lampu senter, tertangkap tulisan ‘tahun 2010’ di sisi kiri tiang jembatan, tahun penyelesaian pembuatan jembatan gantung yang terlihat mulai rapuh itu.


Waktu menunjukkan sekitar pukul 21.15 malam. Setelah menghabiskan 22 jam perjalanan darat dari Pontianak menggunakan mobil (Pontianak-Kapuas Hulu = ± 800 km. Kapuas Hulu-Nanga Sungai = ± 175 km), masih setengah jam berjalan kaki lagi yang harus ditempuh dari jembatan gantung, agar tiba di Dusun Nanga Sungai, Desa Saujung Giling Manik, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalbar.



Bayangan pohon tinggi di kiri-kanan jalan setapak, terlihat saat tertimpa sinar senter. Jalan tanah yang ‘dibaluri’ batu sungai, berbagi tempat dengan suburnya rumput. Beruntung, setelah sekitar 10 menit menyusuri jalan, ‘rute’ jalan kaki ini dipersingkat dengan datangnya jemputan motor yang siap mengantar ke Dusun Nanga Sungai.

Dari boncengan sepeda motor, saya menangkap bunyi-bunyian tabuhan alat musik tradisional khas Dayak, mengalun dalam sunyi malam. Tak berapa jauh dari sebuah pertigaan jalan dusun, bunyi itu semakin jelas terdengar. Asalnya dari sebuah rumah kayu bertiang tinggi. Bersambung langsung dengan rumah itu, ada sebuah panggung dengan lantai papan beratap terpal biru. Tempat para penabuh alat musik tradisional dan masyarakat yang berkumpul di rumah M. Rayung, tepat di ujung jalan sisi kanan.

Turun dari boncengan motor, saya disambut oleh lima perempuan tua yang masing-masing memegang gelas plastik dan seorang pemuda yang memegang nampan berisi sebuah teko. Mereka bernyanyi sambil menghentak-hentakkan kaki kanan di lantai, pada dua kayu yang tiap ujungnya diberi penyanggah kayu kecil sehingga berbunyi ketika diinjak, mengikuti tabuhan alat musik tradisional. Nyanyian mereka semakin kencang saat kaki saya menaiki lima anak tangga.

Inyum jo olongan, ipatiling-tiling

Inyum jo olongan, ipatiling-tiling

Tawak’u ikausang jo. Inyum jo rio-rio

Inyum ilanggak-langgakan, ilanggak-langgakan

Na’an pande iteakang


Bila diartikan dalam Bahasa Indonesia, nyanyian tersebut memiliki arti : “minumlah dan tuangkan ke mulut, miringkan sedikit gelasmu. minumlah dan tuangkan ke mulut, miringkan sedikit gelasmu. Habiskanlah bagianmu. Minumlah cepat-cepat. Minumlah hingga bergelegak-gelegak, bergelegak-gelegak. Tidak boleh dimuntahkan”. Nyanyian berjudul Inyum Jo (Ipatiling-tiling) itu merupakan nyanyian masyarakat Dayak Tamambaloh untuk menyambut tamu atau keluarga yang datang di dusun mereka. (Nyanyian yang diciptakan oleh dua warga Tamambaloh, Yeremias dan Damianus, mulai dikenal luas sejak 1980-an. Sebelumnya, hanya seruan ‘hoiya..hoiya’ yang diiringi musik tradisional masyarakat Dayak Tamambaloh untuk menyambut para tamu). Nyanyian terhenti saat mereka mengelilingi saya, menyodorkan gelas ke mulut, meminum isi gelas hingga habis, dan tangan kanan mereka mengusap-usap bahu saya. Minuman berbentuk cairan putih berasa manis dan agak sedikit kelat. Menurut Rayung, minuman tersebut adalah Saguer, air pohon Enau (Arenga pinnata) yang disadap. Masyarakat luas mengenal minuman tersebut dengan sebutan tuak. Bila ditambah sedikit ragi, minuman bisa mengandung alkohol dan memabukkan.

Saguer merupakan minuman khas Dayak Tamambaloh untuk para tamu yang datang. Selain minuman, biasanya disajikan pula kue kalame kaur, kalame suman, dan lemang. Setelah sajian dinikmati, tamu akan diajak Mandaria’ (menari).

Dayak Tamambaloh

Sungai Embaloh merupakan anak Sungai Kapuas yang mengalir dari hulu pegunungan Kapuas Hulu sepanjang sekitar 168 kilometer. Di sepanjang aliran sungai ini, hidup penduduk asli suku Dayak Tamambaloh. Mereka menyebut diri dengan sebutan Banuaka’, yang berarti orang kita. Selain itu, suku dayak Tamambaloh tersebar juga di sepanjang aliran sungai Labian dan Palin.

Mata pencaharian suku Dayak Tamambaloh adalah berladang. Mereka juga sangat pandai menangkap ikan di sungai. Seperti menjala, menyelam, dan Manyarakap (mencari ikan dengan tangan di danau atau kali). Namun, jangan coba-coba untuk menangkap ikan menggunakan racun tuba. Hukuman adat akan diberikan kepada mereka yang berani meracun ikan dengan tuba. Ikan hasil tangkapan akan diolah masyarakat suku Dayak Tamambaloh menjadi ikan salai (ikan yang diasap), jukut (ikan yang difermentasi), kerupuk, dan kerupuk basah.

Sebagai pencari ikan di sungai, tidak mengherankan bila setiap warga mulai anak-anak hingga perempuan tua bisa mengayuh sampan. Karena, sampan merupakan sarana transportasi yang sering digunakan untuk mengangkut barang dari dusun ke pusat kecamatan.

Tanaman yang tumbuh mendominasi tanah di sepanjang aliran sungai Embaloh adalah Enau. Bahkan, dalam catatan harian seorang pastor dalam buku ‘Hidupku di Antara Suku Daya’ yang ditulis Herman Josef Van Hutten, masyarakat setempat sudah memanfaatkan air sadapan sebagai minuman, saat pastor asal Belanda itu tiba pertama kali di sana, sekitar 1913.

Selasa, 17 Mei 2011

Naik Dango Suku Dayak Kanayant Saat Panen Usai

Tidak ada komentar :

Bunyi gong yang ditabuh terdengar dari speaker di sisi kiri dan kanan betang (rumah panjang) Suku Dayak yang berada di atas bukit Desa Sadaniang, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Pontianak, Rabu (4/5/2011). Dari bawah panggung betang bagian kanan, keluar para penari yang mengenakan baju adat Suku Dayak lengkap dengan atributnya, mengikuti irama gong.
Tanpa alas kaki, penari menggoyangkan tubuhnya dengan indah. Dua tangan direntangkan, kemudian jemarinya bergerak memutar dengan lentik. Seorang penari pria di barisan depan rombongan penari, mengayunkan Mandau ke depan. Dengan mata menatap tajam, tiba-tiba ia meloncat dan berteriak “huih” dengan nyaring.

Tarian yang disuguhkan oleh rombongan penari dari 23 Kecamatan di wilayah Kabupaten Pontianak, menjadi daya tarik pengunjung upacara adat Naik Dango ke-26 itu. Mata mereka tak melepaskan sedikitpun gerakan para penari. Sesekali, pengunjung bertepuk tangan dan bergumam “wow” dengan pelan.
Adanya Naik Dango, membuat Desa Sadaniang yang semula sepi menjadi ramai. Meski berjarak sekitar 87 kilometer dari Pontianak, acara Naik Dango tersebut mampu menyedot ramai pengunjung yang berasal dari kampung atau kecamatan lain. Panas terik tak menyurutkan langkah pengunjung menapaki jalan tanah merah untuk ikut serta dalam prosesi adat Naik Dango yang sudah menjadi agenda tahunan.
Naik Dango sendiri merupakan upacara adat yang dilakukan oleh Suku Dayak Kanayant yang ada di Kalimantan Barat. Upacara adat ini adalah ucapan syukur kepada Sang Pencipta, atas berkat melimpah yang diberikan. Hasil panen tersebut biasanya disimpan di dango (lumbung) padi, yang sebelumnya didoakan oleh panyangahant (juru doa).
Biasanya, usai menyimpan padi dalam dango yang merupakan padi pilihan untuk dipersiapkan sebagai bibit, suku Dayak akan berpesta. Pesta ini dinamakan makant nasi barahu (makan nasi baru). Setiap rumah akan menyuguhkan makanan hasil panen untuk setiap tamu yang datang. Ini merupakan wujud rasa syukur atas panen dan berbagi rezeki untuk dinikmati bersama.
Biasanya, naik dango dilaksanakan setiap 27 April. Pelaksanaannya tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak yang ada di kampung-kampung. Namun juga mereka yang ada di kota dengan jadwal yang berbeda. Penduduk Kota Pontianak dari Suku Dayak melaksanakan naik dango berupa Pekan Gawai. Acara ini dilaksanakan mulai tanggal 18 - 25 Mei 2011. Silakan untuk datang dan menyaksikan sendiri acara adat ini di Betang Jl. Sutoyo Pontianak. Karena, Suku Dayak yang hadir sebagai peserta berasal dari semua kabupaten yang ada di Kalimantan Barat.

Kamis, 24 Maret 2011

Refreshing? ke Pasar Malam Saja

1 komentar :

Semua orang, baik di pedesaan maupun di perkotaan, butuh hiburan untuk melepas penat dan kejenuhan akan rutinitas kerja sehari-hari. Apapun hiburannya, pasti akan membantu melemaskan syaraf-syaraf yang tegang akibat lelah. Tergantung bagaimana setiap individu menikmati hiburan tersebut.



Bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan, mungkin banyak pilihan untuk memilih hiburan. Asal, menyiapkan banyak dana di dompet. Namun, bagi masyarakat di pedesaan, tak banyak hiburan yang bisa dipilih. Nongkrong di warung kopi, nonton panggung hiburan dangdutan acara pernikahan, atau berbondong-bondong ke pasar malam yang tak terjadwalkan.

Nah, hiburan yang bisa saya nikmati sebagai warga desa di Bengkayang pada Sabtu (15/1) malam, adalah pasar malam. Bersama tiga orang teman dan dana yang terbatas, hiburan rakyat itu dinikmati dengan sekantong gorengan dan kamera pocket pinjaman. Pasar malam yang dihelat di halaman kompi 641 Bengkayang, berisi bermacam permainan dan stan yang menjual aneka pernak-pernik. Permainan andalan yang ditawarkan penyelenggara pasar malam antara lain tong edan, rumah hantu, komedi putar, dan kereta api naga.

Rumah hantu menjadi incaran kami untuk menguji nyali. Suara mengerikan berupa ringkikan tawa yang biasanya diperdengarkan mahluk halus, sudah menggema dari corong pengeras suara. Antrean panjang pengunjung yang ingin menikmati kengerian di rumah hantu, sudah tampak di pintu masuk. Robekan karcis seharga 5.000 di tangan petugas jaga pintu masuk, menertibkan pengunjung dalam bentuk barisan memanjang. Dag dig dug jantung semakin kencang saat mendengar teriakan ngeri para pengunjung yang sedang berada di dalam rumah hantu. Bunyi-bunyian seng dan kawat yang dipukul, semakin memacu adrenalin untuk segera mengetahui seseram apakah hantu yang ada di dalam rumah buatan itu.

Giliran kamipun tiba. Usai melewati pintu masuk, kami harus menaiki anak tangga kayu dengan cahaya seadanya. Dinding triplek, susunan seng tak beraturan, lampu yang remang-remang, alunan musik yang menyeramkan, dan teriakan histeris kaget pengunjung, menjadi back sound musik melangkahkan kaki memasuki rumah hantu. Setelah menuruni anak tangga di ujung koridor ruangan, suasana semakin mencekam. Gelap mendominasi ruangan. Sesosok tubuh tampak berdiri di dinding triplek dalam gelap. Dalam hati sudah bertanya, apakah sosok itu hantu?.... Perlahan, kami melangkahkan kaki. Kamera pocket di tangan saya, sudah dalam kondisi siap dijepret, mengabadikan momen ngeri di rumah hantu. Langkah semakin dekat pada sosok itu. Kepala sosok bertubuh kurus tampak sedikit bergerak kea rah kami. Dan....jepret, lampu kamera menyala di ruang gelap. Sosok berdiri terlihat wujudnya. Ternyata, bukan sosok itu hantunya. Ia memberitahu arah yang harus kami tuju selanjutnya. Sialan, kami sudah bergidik ngeri, eh, ternyata bukan hantu.

Perasaan takut akhirnya harus ditahan sejenak. Lorong gelap itu buntu dan berbelok ke kiri. Sosok yang kami temui tadi mengatakan hantu berada di dalam ruangan gelap tepat saat kami belok kiri. Detak jantung semakin kencang. Bunyi jendela dari kawat berbunyi keras. Dinding triplek juga terdengar dipukul tangan. Perlahan, saat kaki sudah di depan ruangan yang diberitahukan, kami mengarahkan kepala ke samping kiri. Ada sesosok tubuh berbungkus kain putih. Sosok yang menyerupai pocong. Nafas kami tertahan. Sosok itu mendekat perlahan. Kami merasakan ketakutan. Suasana ngeri dengan ruangan penuh teriakan. Dan...."foto.... foto....," anak yang menjadi tokoh hantu dalam rumah itu, minta difoto. Saya dan teman, terdiam. Kami terheran dan geleng-geleng kepala dalam cahaya remang. Niat hati merasakan kengerian godaan mahluk halus, tak tercapai. Ternyata, anak yang menjadi tokoh hantu itu banci foto. Bahkan, tokoh hantu di ruang lain juga terkontaminasi minta difoto juga. Setelah kilau jepretan kamera menerangi ruangan, wajah tokoh hantu tidak mengerikan sama sekali.

Meski tak bisa merasakan sensasi kengerian yang amat sangat di rumah hantu, kami menikmati suasana pasar malam. Permainan lempar gelang menjadi incaran berikutnya. Modal 1.000 perak, kami bisa mencoba peruntungan empat gelang untuk dilemparkan pada kaleng minuman. Setelah lima kali menukar uang dengan gelang rotan, kami mencoba melempar satu persatu. Setelah dicoba, akhirnya ada satu gelang yang tertambat pada kaleng minuman. Lumayanlah, daripada tidak dapat apa-apa. Setelah berkeliling pasar malam, kamipun memutuskan pulang. Perut lapar dan rencana nungkrung di warung kopi sudah tertera dalam agenda mengisi hiburan kami. Meski sederhana dan murah meriah, acara hiburan ini bisa menghilangkan sedikit stress yang mendera. Oh iya, pasar malamnya masih berlangsung. Silakan datang untuk mencobanya. Siapa tahu Anda bisa rileks dan kembali segar untuk menjalani rutinitas Anda.

Sabtu, 20 Desember 2008

Enam Ton Sekali Panen

Tidak ada komentar :

MANISNYA madu sangat disukai orang banyak. Madu juga memiliki khasiat untuk meningkatkan stamina tubuh. Satu daerah pemasok madu terbesar di Kalimantan Barat adalah Kapuas Hulu, terutama di kawasan Danau Sentarum.

Daerah paling banyak menyumbangkan madu sebagai hasil hutan alami di kawasan Danau Sentarum tersebar di tiga Kecamatan. Yakni, Selimbau, Batang Lupar, dan Badau. Bahkan, madu yang dihasilkan sudah dikemas dengan rapi dan mendapatkan sertifikasi.
Direktur Riak Bumi Kalimantan Barat Valentinus Heri, mengatakan, madu dari kawasan Danau Sentarum merupakan madu hutan pertama di Indonesia dengan sertifikat organik dari BioCert, yang merupakan satu lembaga sertifikasi organik di Indonesia.
"Masyarakat di kawasan Danau Sentarum memiliki asosiasi yang khusus menangani madu hutan (Apis dorsata). Asosiasi terbentuk sejak 2005, lalu, yang berpusat di Semangit. Asosiasi ini bernama APDS atau Asosiasi Madu Hutan Indonesia," tuturnya, Senin (15/12), lalu.
Wilayah kerja petani madu tersebut meliputi 12.363 hektar hutan pada 13.253 tikungan. Sekali panen, masyarakat bisa mendapatkan enam ton madu setiap kelompoknya. Menurut Heri, pada 2008, masyarakat dapat memanen sekitar 20 ton madu.
Sebelum terbentuknya APDS, harga jual Madu sangat rendah. Hanya Rp 6.000 per kilo. Karenanya, menjadi petani madu masih belum dilirik oleh masyarakat di wilayah Danau Sentarum.
Setelah asosiasi terbentuk, harga jual madu mulai dilirik masyarakat. Harga jual mencapai Rp 45 ribu per kilogram. Apalagi, masyarakat juga tidak perlu bersusah payah menjual madu karena ada asosiasi yang siap menampung hasil panen madu mereka.
Heri mengatakan, jumlah anggota asosiasi APDS saat ini berjumlah 157 orang di delapan Periau (wilayah kelola kelompok madu di Danau Sentarum), yang berada di enam kampung dari 33 kampung potensial.
"Madu tersebut diperoleh petani dari hutan alami. Kualitas madupun tergantung pada hutan yang ada di Danau Sentarum. Bila hutan mulai rusak, kualitas madu yang dihasilkan juga akan terpengaruh," tuturnya.
Menurut peneliti dari Center for International Forestry Research (Cifor) Elizabeth Linda Yuliani, menjaga kealamian hutan Danau Sentarum merupakan tantangan yang harus ditanggulangi bersama.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh tim Cifor, tingkat kekeruhan air Danau Sentarum jauh di atas ambang batas yang disarankan untuk kesehatan manusia dan perikanan. Terutama, di Desa Leboyan.
"Berdasarkan penuturan masyarakat, kekeruhan memburuk sejak maraknya illegal logging dan pembangunan jalan yang tidak memperhatikan pengendalian dampak lingkungan di daerah hulu," tutur Linda.
Seorang warga Desa Selimbau Abu, mengatakan, pembalakan liar marak terjadi di sekitar Danau Sentarum antara tahun 2004 hingga 2005. Hal itu membuat hutan alami di sekitar danau menjadi terganggu.
"Banyak pohon di hutan yang ditebang. Ini menyebabkan hutan gundul dan mempengaruhi hasil panen madu. Padahal, selain madu yang dipanen, sarangnyapun dapat dijual dan menambah penghasilan masyarakat," tuturnya.
Ketika Tribun dan rombongan berada di pasar Lanjak, seorang ibu yang berasal dari Desa Semangit menjual Labang Muanyi (sarang lebah) yang bisa dijadikan lauk untuk makan. Ia menjual sarang lebah tersebut Rp 15 ribu per kilogramnya.

Kamis, 18 Desember 2008

Surga Ikan Arwana

Tidak ada komentar :

SATU jenis ikan hias yang banyak diburu para kolektor adalah ikan Arwana (Scleropages formosus). Selain karena keindahan warnanya, ikan Arwana juga mempunyai keunikan, menetaskan telur di mulut pejantan.

Geliat anak ikan Arwana di akuarium milik warga Semitau Hari Sudirman (38), sangat memesona. Harga seekor ikan yang mencapai jutaan rupiah itu, menjadi kebanggaan masyarakat Kapuas Hulu. Karena, habitat alami ikan Arwana ada di danau Sentarum.
Sebagian besar masyarakat yang hidup di danau seluas 32 ribu hektar itu mengembangkan budidaya ikan Arwana. Selain cocok dengan habitat di danau, pakan yang diberikan untuk ikan hias itu juga mudah diperoleh.
"Pakan utama untuk ikan Arwana yang saya pelihara adalah katak. Bisa juga diberikan pakan jangkrik, cicak, udang, dan ikan kecil. Merawat ikan inipun tidak terlalu rumit," ujarnya ketika ditemui di rumahnya, Sabtu (13/12), lalu.
Katak diperoleh Hari dari Pontianak dengan harga Rp 11 ribu per kilogram. Katak tersebut dikirimkan dalam kondisi beku. Sehingga, pakan lebih mudah diberikan kepada ikan yang dipelihara di kolam maupun di akuarium.
Menurut Hari, permasalahan dalam merawat ikan Arwana adalah pada kualitas air yang ada. Keasaman air yang cocok untuk ikan ini berkisar pada angka 5. Perbedaan ikan Arwana yang ada di habitat alami dan kolam adalah, ikan lebih gemuk bila dikembangbiakkan di kolam.
Peneliti dari Center for International Forestry Research (Cifor) Elizabeth Linda Yuliani, mengatakan, nilai penting danau Sentarum dalam perikanan tradisional sangat tinggi. Selain itu, danau yang sebagian besar dipenuhi dengan lahan gambut ini memiliki potensi untuk lokasi UNESCO heritage.
"Semua itu tergantung pada kualitas alami danau Sentarum. Melindungi lahan gambut dan hutan alam danau Sentarum berarti melindungi simpanan dan penyerap karbon, menjaga iklim mikro, mengurangi perubahan iklim global, dan berpotensi untuk pasar karbon," tuturnya.
Linda mengatakan satu potensi perikanan di lahan gambut tersebut adalah ikan Arwana, yang bisa dibudidayakan masyarakat sekitar untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Karena, untuk harga seekor ikan mencapai Rp 2,7 juta.
Pemilik kolam ikan Arwana di Semitau saat ini mencapai 40 orang. Pendapatan yang bisa diperoleh untuk sekali panen mencapai miliaran rupiah. Peternak ikan Arwana biasanya bisa memanen 100 ekor dalam kurun waktu satu hingga tiga bulan.

Biaya Naik Haji
Keuntungan memelihara ikan Arwana banyak dirasakan masyarakat Selimbau. Menurut Camat Selimbau Abang Sudarmo, beberapa masyarakat yang tinggal di desa Selimbau kota bisa naik haji dengan menjual ikan Arwana yang mereka kembangbiakkan.
"Tahun ini saja ada 16 orang masyarakat desa Selimbau kota yang berangkat naik haji. Mereka membiayai ongkos keberangkatan dengan menjual ikan peliharaan mereka. Setidaknya, masyarakat mengembangkan ratusan ekor ikan Arwana," tuturnya.
Peternak ikan Arwana warga Selimbau Edi, mengatakan, lima ekor ikan Arwana yang dikembangkannya pernah ditawar untuk dibeli seharga Rp 10 juta per ekor. Namun, ia enggan menjualnya.
Menurut Edi, ikan Arwana yang dikembangkannya bisa mencapai Rp 50 juta per ekor. Karena, ia menggunakan air danau Sentarum untuk tempat perkembangbiakannya di akuarium. Edi hanya menggunakan aerator dan penyaring dari kapas untuk menyaring air danau.
Keuntungan memelihara ikan Arwana juga dialami oleh warga desa Gudang hulu Dusun Gertak Baru Selimbau, Sukiman. Lima ekor sapi yang dipeliharanya dibeli dari hasil menjual dua ekor ikan Arwana.
"Harga dua ekor ikan tersebut Rp 12 juta. Sekarang ikan Arwana yang masih ada sebanyak lima ekor. Ikan tersebut dipelihara selama setahun, mulai dari anakan hingga sudah besar," tuturnya.

Anggrek Alami Sepanjang Aliran Sungai

Tidak ada komentar :

BILA Italia memiliki wisata air di kota Venezia yang bisa disusuri menggunakan gandola, Kapuas Hulu memiliki kawasan Danau Sentarum yang menyimpan keelokan Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata) yang tumbuh alami di hutan sepanjang aliran Sungai Kapuas, dan bisa dinikmati menggunakan long boat (sampan motor).

Jenis anggrek alam di danau Sentarum yang telah teridentifikasi oleh tim peneliti Center for International Forestry Research (Cifor) dan Riak Bumi, sebanyak 135 jenis. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan taman nasional di Kanada yang hanya memiliki 28 jenis anggrek.
Desa yang mengembangkan wisata anggrek di lahan gambut terbesar kedua di Kalimantan Barat itu adalah Pelaik dan Selimbau. Masyarakat menjaga tanaman anggrek alami yang tumbuh parasit di pohon, dengan membentuk Kelompok Wisata Anggrek Danau Sentarum (KWADS).
Menurut peneliti anggrek dari Cifor Leon Budi Prasetyo, wilayah Pelaik memiliki sekitar 50 jenis anggrek. Sedangkan Selimbau memiliki sekitar 40 jenis anggrek. Jenis anggrek yang tumbuh alami tersebut memiliki potensi untuk dijadikan objek wisata di danau Sentarum.
Karenanya, wisata anggrek dapat menjadi pilihan utama pengunjung yang datang ke wilayah Danau Sentarum, yang sebagian besar didominasi oleh perairan. Transportasi yang digunakan masyarakat kebanyakan adalah sampan, sampan motor, ataupun motor Bandong (home boat).
Ketua kelompok KWADS Selimbau Saharman, mengatakan, sudah setahun menjaga anggrek alam yang ada di tepi aliran sungai desa. Kelompok ini beranggotakan lima orang, yang setiap hari selalu berkeliling di sepanjang aliran sungai menggunakan sampan.
"Bila ada tanaman anggrek yang jatuh ke air, kami akan meletakkan kembali ke pohon. Hal ini kami lakukan untuk menjaga kelestarian tanaman anggrek di hutan kami," tuturnya kepada Tribun, Sabtu (13/12), lalu.
Melihat tanaman anggrek yang hidup di pohon di pinggir sungai menggunakan long boat, memberikan kenikmatan tersendiri. Kicau burung Murai Batu, kelebatan burung Bangau dan Elang, menambah penyusuran sungai menjadi tidak membosankan.
Apalagi, rindangnya hutan memberikan kesan teduh kepada pengunjung. Alternatif lain bila pengunjung tidak menyukai tanaman anggrek adalah memancing. Menurut warga Selimbau bernama Abu, jenis ikan yang ada di sungai desa mereka adalah ikan Baung, Lais, Toman, dan Patik.
Selain anggrek yang tumbuh alami di sepanjang aliran sungai, KWADS Selimbau juga menjaga anggrek di daratan yang mempunyai luas sekitar tiga hektar. Ketika Tribun dan rombongan berkeliling di taman anggrek tersebut, serumpun anggrek hitam sedang mekar.
Keelokan tanaman lain yang disuguhkan taman anggrek alami Selimbau adalah berjenis tanaman Kantung Semar (Nepenthes sp). Tanaman ini tumbuh menyebar di tanah yang terbuka dan cukup matahari, serupa dengan habitat anggrek.

Rabu, 10 Desember 2008

Pernikahan Adat Dayak Kalis, Leroy Mau Bawa Pulang Pakaian Adat

2 komentar :

WARGA negara Amerika Serikat, Leroy James Bailey, tampak gagah mengenakan pakaian adat Dayak. Laksana pangeran kerajaan, ia tiba di Betang di Jalan Sutoyo Pontianak, Senin (8/12), dengan iringan tabuhan dan tarian. Ia mengendarai mobil bak belakang terbuka yang dihias menyerupai perahu Jajang.

Upacara adat yang dijalani Leroy merupakan lanjutan pernikahan resmi (catatan sipil) bersama Briggita Romanda Kaliska atau Gitta, yang dilakukan di Franklyn Courthouse Louisiana Amerika Serikat pada 27 Juli 2007. Buah cinta pernikahan tersebut adalah Gabriella Anna Marie Bailey atau Gabby yang berusia 11 bulan.
Leroy tampak selalu tersenyum. Ia menjalani prosesi perkawinan adat sub suku Dayak Urang Kalis yang berasal dari Kabupaten Kapuas Hulu. Prosesi tersebut dilaluinya setelah menikahi Gitta, perempuan yang berasal dari daerah itu.
"Upacara ini sangat unik. Ini merupakan kedatangan pertama saya ke sini (Kalimantan Barat) dan juga pengalaman pertama mengikuti upacara seperti ini," tuturnya kepada Tribun di beranda Betang, Senin (8/12), usai melakukan upacara adat.
Leroy yang menuntut ilmu di US Air Force, The Reserve Officers Training Corps (ROTC) Morgan City Los Angeles, mengaku, sedikit bingung dengan prosesi penikahan adat. Ia harus melalui 13 prosesi adat, juga upacara adat Apandaor (menurunkan anak ke tanah/sungai), untuk putrinya.
Hujan deras tak menyurutkan langkah Leroy menjalani setiap prosesi. Meskipun tidak menguasai bahasa Indonesia dan bahasa Dayak Kalis, Leroy sangat serius melalui tahapan upacara pernikahan adat, itu.
Ketika tiba di Betang, Leroy ditunggui Gitta dan Temanggong (tetua adat) yang berdiri di depan sebuah batang kayu yang melintang sebagai Ompang Panyialo (penghalang). Kayu tersebut harus dipatahkannya menggunakan Mandau.
Ada dua penghalang yang harus dipatahkan Leroy. Penghalang tersebut berada di pintu masuk dan depan tangga Betang. Penghalang tersebut merupakan simbol rintangan dalam kehidupan yang harus dilalui oleh Leroy.
"Saya sangat menyukai prosesi mematahkan penghalang. Prosesi itu unik. Karena, usai penghalang dipatahkan, saya disambut pihak keluarga perempuan dan disambut dengan segelas Geram (tuak) dan tarian," tuturnya.
Leroy juga menyukai pakaian adat yang dikenakannya. Menurut Gitta, Leroy pernah mengutarakan hal itu kepada dirinya. Pakaian berbahan manik-manik tersebut ingin dibawa pulang ke Amerika.
"Ia ingin pakaian tersebut menjadi kenang-kenangan pernikahan yang bisa disimpan di rumah. Leroy mengatakan hal itu ketika pertama kali melihat dan mengenakan pakaian adat tersebut," ujar Gitta.
Menurut mahasiswi University of Louisiana Lafayette jurusan Bisnis, itu, ia belum tahu apakah akan memenuhi keinginan Leroy atau tidak. Karena, dirinya masih terfokus pada upacara pernikahan adat terlebih dahulu.


Tentukan Nama Pakai Temu Lawak

SEBAGAI peranakan Amerika Serikat dan Indonesia, khususnya berdarah Dayak Kalis, Gabriella Anna Marie Bailey atau Gabby yang berusia 11 bulan, harus melalui prosesi adat Apandaor (anak turun ke tanah/sungai). Prosesi tersebut diakhiri dengan pemberian nama Dayak, yang ditentukan menggunakan buah Temu Lawak.
Seperti bocah kebanyakan, tingkah Gabby tampak menggemaskan. Ketika alat musik tradisional ditabuh untuk memulai prosesi Apandaor, jemari kedua tangannya berputar, menari. Ketika musik terhenti, jemari tangan kanannya bergerak membuka dan menutup.
Berada digendongan Ir Anna Veridiana I Kalis M Sc, neneknya, Gabby menjadi pusat perhatian tamu yang datang. Bocah itu juga tak rewel ketika kilatan blitz kamera mengarah kepadanya. Bahkan, ia melambaikan tangan kanannya ke arah juru foto.
Kekhawatiran terlihat dari wajah Leroy James Bailey, ayah Gabby, yang selalu mengawasi putrinya dari arah sebelah kanan mertuanya. Beberapa kali ia berbisik pada Brigitta Romanda Kaliska atau Gitta, istrinya, bila ia melihat wajah Gabby menunjukkan akan menangis.
Menurut Gitta, kekhawatiran Leroy muncul bila ada orang baru yang belum dikenal menyentuh atau mengendong putrinya. Perempuan yang menempuh pendidikan di University of Louisiana, itu, mengaku memaklumi kekhawatiran suaminya.
"Apalagi Gabby harus dimandikan sebelum dilakukan pemberian nama. Kondisi hujan dan dingin menyebabkan Leroy khawatir bila kondisi kesehatan Gabby menjadi lemah," tuturnya kepada Tribun di beranda Betang Jalan Sutoyo, Senin (8/12).
Sebuah kolam plastik hijau berdasar kuning yang berisi air dan taburan bunga, diletakkan dekat tangga beranda betang sisi kiri. Kolam itu menjadi tempat mandi Gabby untuk upacara Apandaor. Sebelumnya, air kolam tersebut didoakan oleh Temanggong (tetua adat).
Doa yang dilafalkan dalam bahasa Dayak Kalis meluncur dari mulut Temanggong, seraya mengarahkan ujung mata tombak pada air kolam. Dari gendongan neneknya, Gabby menatap lekat pada Temanggong dan ujung tombak yang mengarah ke tempat mandinya.
Selain dilakukan oleh orangtuanya, prosesi memandikan Gabby juga dilakukan oleh Barcunda Sturjaya SH MM, kakeknya. Sedangkan kakek dan neneknya dari Amerika, tidak bisa menghadiri prosesi adat tersebut.
Menurut Gitta, Louis Adam Topham dan Agnes Giroir Topham, mertuanya, sangat ingin turut serta dalam prosesi adat yang dilakukan. Namun, keinginan tersebut kandas akibat bencana badai Ike dan Gustaf.
"Rumah mertua saya ikut terkena badai tersebut. Mereka memutuskan tidak jadi ikut ke Indonesia karena harus memperbaiki rumah yang terkena badai. Mereka menitip doa buat Gabby, agar prosesi adat ini berjalan dengan lancar," tuturnya.
Usai prosesi Ipamandi (mandi) sebagai satu bagian adat Apandaor, tahapan selanjutnya adalah Yan Tasang (pemberian nama Dayak Kalis). Tiga nama sudah disiapkan untuk Gabby, yang harus dipilih secara berurutan. Yakni Bunga Lita, Indang, dan Kabang.
Uniknya, pemberian nama dilakukan oleh Temanggong dengan bantuan buah temu lawak yang sudah dikupas kulit luarnya. Buah tersebut dibelah menjadi dua bagian sama besar. Menurut Temanggong, pemilihan nama bisa digunakan Gabby, berdasarkan tanda dari buah temu lawak.
"Kalau buah menutup dan membuka, maka nama sudah direstui oleh Yang Kuasa melalui tanda tersebut. Kalau buah tersebut tidak terbuka dan menutup sampai tiga kali, nama pertama yang dipilih dibatalkan dan dilakukan pemilihan nama kedua yang sudah disiapkan. Begitu seterusnya," tuturnya.
Usai melafalkan doa, Temanggong melakukan lemparan pertama buah temu lawak ke udara. Para tamu yang menanti hasil pemilihan nama terlihat tenang. Ketika tiba ke lantai, dua bagian buah tersebut jatuh menutup dan harus diulangi. Nama Bunga Lita untuk Gabby baru diperoleh dalam lemparan yang kedua, setelah buah jatuh dalam posisi berlawanan.
Menurut Anna, nama tersebut sama seperti nama Dayak Kalis yang dimilikinya. Anna mengharapkan keindahan nama Bunga Lita tersebut dapat terpancar dalam sikap dan perilaku Gabby nantinya.

Foto by Ishaq