arthurisme

a traveler, a backpacker, food lover

Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Januari 2013

Ribetnya Buat Video Journey @IniBaruHidup

Tidak ada komentar :
Awal Desember 2012, mata saya terpaku pada satu iklan di Facebook yang mengabarkan diadakannya kontes Nescafe Journey 2, dimana juaranya bisa keliling Indonesia. Sebagai penggila traveling dan senang akan tantangan dengan mengunjungi tempat baru, iklan tersebut saya klik dan ikuti, tentunya dengan semangat ’45 yang membara. Setelah membaca aturan dan mendaftar sebagai peserta kontes, saya memilih Nicholas Saputra sebagai aspirer untuk menjalankan misi exploring youth culture. Kenapa? Bagi saya, budaya adalah cermin Indonesia yang indah, subur, ramah, dan luas. Sehingga, mengenal anekaragam budaya yang tersebar seantero Indonesia ibarat mencoba mengenal diri sendiri. Mengenal lebih dekat kepala, leher, badan, tangan, hingga kaki. Membayangkan semua anggota tubuh itu seperti budaya yang ada di Indonesia, yang menjadi satu membentuk tubuh berwujud saya.

Alasan lain saya tidak memilih dua aspirer lain adalah, misi ‘save shark’ yang diberi Rayani Djangkaru sangat sulit untuk dilakukan. Terbatasnya waktu dan keadaan saya yang tinggal di desa, sangat sulit untuk mengubek-ubek Kalimantan Barat dalam mencari semua hal yang berkaitan dengan tema. Kecuali, browsing internet, yang sama saja artinya dengan tidak menjalankan misi. Sedangkan misi ‘meeting new people’ yang diberi Imam Darto, sudah sering saya lakukan. Contohnya, sebagai wedding fotografer amatiran pemula tingkat kampung, saya terkadang berbincang dan memotret orang yang belum saya kenal sebelumnya. 

Misi exploring youth culture yang saya sertakan dalam kontes Nescafe Journey 2 adalah tulisan serta foto budaya Nyempaok dan Perahu Tambe. Nyempaok adalah mencari ikan di sungai atau lahan berair yang mengering secara beramai-ramai, yang dilakukan oleh anak-anak hingga orang tua, penduduk bersuku Dayak Bakati. Momen ini saya temui saat berkunjung ke rumah nenek di Bengkayang. Sedangkan Perahu Tambe adalah budaya Dayak Tamambaloh di Kapuas Hulu, yang merupakan acara adat penyambutan bagi anggota keluarga baru dalam pernikahan, atau penyambutan bagi tamu baru yang datang ke kampung tersebut.

Dua foto dan tulisan tersebut berujung pada ‘email cinta’ yang baru saya lihat pada 14 Desember 2012, malam. Email yang mengabarkan bahwa saya lolos sebagai satu dari 60 orang Sobat Journey Nescafe aka @IniBaruHidup, yang masuk ke tahap berikutnya, untuk membuat video dengan durasi 5 menit yang diunggah di Youtube. Tugas yang membuat saya puyeng tujuh keliling karena deadline hingga 17 Desember 2012, pukul 18.00 WIB. Aaarrrrggghhhh….siapa yang bisa bantu shooting video untuk saya di kampung ini????

Menuju Menjalin

‘tunggu video saya’, itu yang saya posting di status Facebook. Meski bagaimana pun, usaha untuk membuat video musti terlaksana. Bayangan akan traveling keliling Indonesia sudah membentang di depan mata, bak wanita cantik minta dipinang. Video harus siap sebelum deadline! Permasalahannya adalah siapa yang mau bantu shooting, pakai alat apa, dan konsep videonya apa? HUH, gak ada tugas yang lebih gampang po? Nulis artikel, misalnya! 

Pusing mikir, akhirnya dapat pula solusinya. Pas ngobrol dengan si bontot, tu adik tersayang mengajukan pacarnya untuk bantu-bantu. Kebetulan, pacar si bontot punya handycam. Tanpa membuang waktu, pacar si bontot yang menetap di kampung ujung yang berbeda kecamatan dengan saya, langsung dihubungi. Hasilnya? Janjian ketemuan tanggal 15 Desember 2012 di kampung pacar si bontot, untuk ngomongin konsep video. Really love you, God!

Sabtu siang yang cerah tertanggal 15 Desember 2012. Motor Jet cooled meluncur pelan dari jalanan Pasar Toho menuju Menjalin. Kamera yang baru dibeli 5 bulan lalu, dibawa serta untuk antisipasi bila diperlukan. Dalam benak sudah ditanam niat : hari ini video harus kelar! Mengingat harus diunggah di Youtube. Sekitar satu jam perjalanan, Jet Cooled berhenti di depan satu bangunan, dekat jejeran jeriken bensin eceran. Bangunan semen yang tak terlalu luas itu memang menjadi bangunan untuk menjual jasa ‘ada banyak’. Maklum, di kampung. Satu tempat yang menawarkan jasa pengetikan, ngeprint, foto, hingga menjual bunga hasil kerajinan tangan dan bensin. Yordan, pacar si bontot, terlihat sedang mengetik di depan laptopnya. Melihat calon abang ipar datang, ia menghentikan ketikan dan mengambil bangku plastik dari ruang samping. Usai mempersilakan duduk, ia membuat segelas kopi. 

“Konsepnya apa, bang?”

Pertanyaan Yordan kujawab dengan bahu yang terangkat dan kedua tangan terbuka ke atas. Sama sekali belum tahu konsep dari video tersebut. Saya hanya membayangkan, ia meng-shoot saya di lokasi betang (rumah panjang) Menjalin. Itu saja.

“Siap, selesai ngopi, kita berangkat,” katanya.


Making the video

Sambil ngopi, Yordan mengemaskan handycam dalam tas. Saat saya menyeruput cairan kopi terakhir, ia menutup pintu lipat kayu tokonya. Kami menuju betang yang berjarak sekitar 15 menit berkendara dari toko tersebut. Jet Cooled masih menjadi partner setia menuju lokasi itu. 

Tepat di lapangan bola, motor yang kami kendarai berbelok menuju jalan ke betang. Rumah panjang suku Dayak yang dibangun sejak 1995 untuk acara adat Naik Dango itu, masih berdiri megah dan terawat. Sayang, sampah plastik yang bertebaran di belakang betang, mengganggu keindahan pemandangan.

Ini merupakan pertama kalinya saya mengunjungi betang di Menjalin. Beruntung, pintu betang terbuka semua karena ada kegiatan pemilihan Dewan Adat Dayak di Menjalin, sehingga saya bisa melihat-lihat isi di dalam bangunan. Dan hulaaaa….saya bertemu Pak Camat yang dulunya adalah guru SMA saya. Ngobrol-ngobrol sejenak dengan beliau, sambil menceritakan maksud tujuan berada di betang. Jangan sampai, beliau dan orang yang ada di betang sampai ‘salah mengira’ melihat kami membawa handycam.


Pengambilan gambar pun dimulai saat Pak Camat pamit pulang. Bagian dalam dan luar betang menjadi latar saya dalam video. Beberapa kali harus take ulang karena saya tak mampu menahan tawa, lupa apa yang mau diomongkan, dan gangguan dari pengurus betang yang sedang beres-beres ruangan. BAH!. Karena sudah sore, shooting dihentikan dan akan dilanjutkan lagi esok hari, di lokasi persawahan dan hutan yang ada di desa Pak Ona, Toho.

Jujur, selama perjalanan pulang dari Menjalin-Toho, saya khawatir akan nasib video tersebut. Besok hari Minggu, yang berarti satu hari sebelum batas terakhir pengiriman. Shooting belum kelar. Belum lagi ditambah untuk mengedit. Kekhawatiran utama adalah listrik mati. Laptop si Yordan error baterainya. Jika listrik mati, tu laptop ikutan juga. Maklum, nyawa tu laptop seiya sekata dengan nyawa si listrik. Beuhhhhh… Sangking kepikiran terus, saya pun sukses tidak tidur semalaman. Viva kopi!!!!!

Saat nyokap dan si bontot ke gereja pukul 09.00 WIB, saya pun berkelana menuju desa Pak Ona. Kebetulan si Yordan udah ngetem di rumah pamannya di sana, setelah malam mingguan dengan si bontot. Tanpa banyak membuang waktu, kami berjalan kaki menuju persawahan yang harus melewati rimbunan hutan dan kebun durian penduduk setempat. Beruntung hari cerah. Sehingga, proses pengambilan gambar pun tidak terganggu. Pukul 13.15 WIB, kami sudah menyelesaikan shooting.

Kerut kening pun dimulai saat proses editing di rumah paman si Yordan. Bertemankan kopi dan sebaskom buah rambutan, pilah-pilih gambar dan pencocokan lagu membuat kepala saya mulai terasa nyut-nyut. Penderitaan yang komplit. Bukan perkara mudah untuk mengedit video bagi saya dan Yordan yang masih amatir. Proses kerut kening itu pun selesai pukul 21.00 WIB, dimana saya langsung pamit untuk mengunggah ke Youtube di rumah, menggunakan bantuan notebook dan modem. Sekitar pukul 22.00 WIB, video saya sudah terpasang di Youtube dan bisa tidur pulas di hari Senin tanpa memikul beban khawatir. :D Finally, I Am Not Win the Contest

Bagi saya, video tersebut bisa menjadi kado natal yang menanti pengumuman pemenangnya di tanggal 7 Januari 2013. Usaha ‘merayu’ teman-teman di facebook untuk memberi rekomendasi, terus dilakukan hingga sehari sebelum pengumaman. Tentunya sesuai ‘anjuran’ dari aplikasi @IniBaruHidup.

Dag dig dug duer dalam hati menanti pengumuman pemenang, yang dengan harap-harap cemas saya lihat secara perlahan di halaman Nescafe ID di facebook. Dan akhirnya, saya tidak menang dalam kontes tersebut. Tapi, setidaknya saya sudah berusaha untuk menang, walau tidak menang. Hingga, saya selalu risau dan mupeng tiap kali membuka aplikasi itu dari akun facebook saya. 

Ya, finally I am not win the contest. How poor i am. :D

Selasa, 18 Desember 2012

Cucur Mawar, Petuah dan Restu untuk Pengantin

Tidak ada komentar :
Menjadi wedding photographer tingkat kampung yang baru dijalani, membuat saya bisa mengabadikan momen budaya dan adat istiadat, yang mungkin saat ini jarang sekali dilakukan oleh penduduk kota yang hidup lebih modern. Satu momen itu adalah cucur mawar. Suatu budaya suku Melayu yang ada di Kalimantan Barat, yang saya abadikan pada Sabtu (8/12) lalu.


Sejatinya, cucur mawar adalah petuah, doa, dan restu dari orang-orang yang dituakan dalam keluarga, kepada pasangan pengantin yang baru saja mengikat janji sehidup semati dalam ijab kabul.

Prosesi cucur mawar dilakukan dengan sederhana dan khidmat, dimana pasangan pengantin menerima curahan air wewangian sari bunga dan taburan osengan beras baru.

Seraya mencurahkan air wewangian dan taburan osengan beras baru itu, para orang tua yang berasal dari keluarga kedua mempelai memberikan petuah tentang hidup, doa, dan restu tulus dalam menerima anggota keluarga yang baru.

Usai menerima petuah, doa, dan restu, pasangan pengantin melakukan sungkem, sebagai tanda bahwa mereka menerima sepenuhnya petuah-petuah bijak yang diberikan kepada mereka, dan siap mengarungi bahtera rumahtangga.

Momen ini sangat menarik bagi saya, dimana budaya dan adat istiadat yang tertuang dalam acara cucur mawar itu penuh dengan makna hidup akan tali silaturahmi dan cinta. Suatu cinta yang menggabungkan dua keluarga berbeda, menjadi satu ikatan kekerabatan yang sangat erat.

Selasa, 17 Mei 2011

Naik Dango Suku Dayak Kanayant Saat Panen Usai

Tidak ada komentar :

Bunyi gong yang ditabuh terdengar dari speaker di sisi kiri dan kanan betang (rumah panjang) Suku Dayak yang berada di atas bukit Desa Sadaniang, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Pontianak, Rabu (4/5/2011). Dari bawah panggung betang bagian kanan, keluar para penari yang mengenakan baju adat Suku Dayak lengkap dengan atributnya, mengikuti irama gong.
Tanpa alas kaki, penari menggoyangkan tubuhnya dengan indah. Dua tangan direntangkan, kemudian jemarinya bergerak memutar dengan lentik. Seorang penari pria di barisan depan rombongan penari, mengayunkan Mandau ke depan. Dengan mata menatap tajam, tiba-tiba ia meloncat dan berteriak “huih” dengan nyaring.

Tarian yang disuguhkan oleh rombongan penari dari 23 Kecamatan di wilayah Kabupaten Pontianak, menjadi daya tarik pengunjung upacara adat Naik Dango ke-26 itu. Mata mereka tak melepaskan sedikitpun gerakan para penari. Sesekali, pengunjung bertepuk tangan dan bergumam “wow” dengan pelan.
Adanya Naik Dango, membuat Desa Sadaniang yang semula sepi menjadi ramai. Meski berjarak sekitar 87 kilometer dari Pontianak, acara Naik Dango tersebut mampu menyedot ramai pengunjung yang berasal dari kampung atau kecamatan lain. Panas terik tak menyurutkan langkah pengunjung menapaki jalan tanah merah untuk ikut serta dalam prosesi adat Naik Dango yang sudah menjadi agenda tahunan.
Naik Dango sendiri merupakan upacara adat yang dilakukan oleh Suku Dayak Kanayant yang ada di Kalimantan Barat. Upacara adat ini adalah ucapan syukur kepada Sang Pencipta, atas berkat melimpah yang diberikan. Hasil panen tersebut biasanya disimpan di dango (lumbung) padi, yang sebelumnya didoakan oleh panyangahant (juru doa).
Biasanya, usai menyimpan padi dalam dango yang merupakan padi pilihan untuk dipersiapkan sebagai bibit, suku Dayak akan berpesta. Pesta ini dinamakan makant nasi barahu (makan nasi baru). Setiap rumah akan menyuguhkan makanan hasil panen untuk setiap tamu yang datang. Ini merupakan wujud rasa syukur atas panen dan berbagi rezeki untuk dinikmati bersama.
Biasanya, naik dango dilaksanakan setiap 27 April. Pelaksanaannya tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak yang ada di kampung-kampung. Namun juga mereka yang ada di kota dengan jadwal yang berbeda. Penduduk Kota Pontianak dari Suku Dayak melaksanakan naik dango berupa Pekan Gawai. Acara ini dilaksanakan mulai tanggal 18 - 25 Mei 2011. Silakan untuk datang dan menyaksikan sendiri acara adat ini di Betang Jl. Sutoyo Pontianak. Karena, Suku Dayak yang hadir sebagai peserta berasal dari semua kabupaten yang ada di Kalimantan Barat.

Minggu, 03 April 2011

Sendratari Topeng Korea

Tidak ada komentar :

Jangan pernah meremehkan kebudayaan!! Pesan inilah yang ingin disampaikan Negara Korea, yang membelalakkan mata negara Asia lainnya dengan menjadi tuan rumah perhelatan olah raga dunia Olimpiade tahun 1988 dan Piala Dunia 2002, bersama dengan Jepang. Negara yang berpenduduk 47.640.000 jiwa di akhir tahun 2002 ini, seakan melepaskan julukan tradisional “Kerajaan Kaum Pertapa” menjadi kerajaan yang maju dalam bidang teknologi, ekonomi, pendidikan tanpa mengesampingkan kebudayaan yang mereka miliki dan keindahan alam sebagai daya jual dalam menarik wisatawan untuk berkunjung ke negara yang berada di wilayah Asia Timur ini. Satu contoh yang unik dan menarik dalam bidang kesenian (kebudayaan) yang ada di Korea adalah tarian tradisional yang dikenal sebagai sendratari topeng.


Sejarah

Topeng dan tari topeng Korea berkembang di awal pra-sejarah, sedangkan sendratari topeng berkembang bersama masyarakat Choson (1392-1910) di bawah pimpinan Yi Song-gye yang dikenal sebagai raja T’aejo, yang memindahkan ibukota dari Song-ak (sekarang Kaesong) ke Hangyang (sekarang Seoul) pada tahun 1394. Tari tradisional Korea mengalami kemunduran selama masa kolonial Jepang, kemajuan industri dan urbanisasi rakyat Korea sampai tahun 1970-an. Di tahun 1980-an, rakyat Korea mulai menghidupkan kembali tarian ini. Dari 56 tarian asli, hanya beberapa tarian yang diketahui saat ini termasuk Cheoyongmu dari Dinasti Silla, Hakchum (tari burung bangau) dari Dinasti Goryeo dan Chunaengjeon (tari nyanyian kerajaan di musim semi) dari Dinasti Joseon.


Nama tradisional

Sendratari topeng mempunyai banyak jenis nama tradisional di Korea. Talchum, Sandae-nori, Ogwangdae-nori, Yayu dan Pyolshin-gut-nori, merupakan nama-nama sendratari topeng yang dipakai di wilayah yang berbeda. Seperti contoh, Sandae-nori adalah nama yang dipergunakan di Propinsi Kyonggi, tempat Seoul berada. Di bagian utara dari Korea dikenal Talchum. Di bagian selatan Korea orang menggunakan nama Yayu. Saat ini terdapat 14 sendratari topeng yang masih dipertunjukan.

Amilcar Cabral dalam pidato konfrensi Unesco di Paris, 3 – 7 Juli 1972 menyatakan “budaya berfungsi sebagai identitas dan kedalaman sebuah masyarakat untuk membuka persfektif-persfektif baru yang mengandung isi dan bentuk ekspresi menjadi instrumen informasi dan politik yang kuat bukan hanya untuk merebut kemerdekaan, namun juga dalam usaha yang lebih besar untuk menciptakan kemajuan”. Pernyataan di atas tercermin dalam kebudayaan Korea yang diwakili oleh sendratari topeng yang memadukan unsur musik, tari, cerita dan topeng.


Bahan topeng

Topeng sebagai ekspresi emosi, pandangan dan pemberontakan terhadap realita kehidupan mengenai status sosial dan kemerosotan akhlak masyarakat, sebagai kontradiksi antara tradisi dan modernisasi dalam melakukan refleksi diri yang mencerminkan optimisme, kreatifitas dan kebijaksanaan masyarakat Korea untuk menciptakan kehidupan harmonis dalam kehidupan sosial dan membentuk masyarakat yang kokoh dan bersatu padu dalam membangun bangsa.

Topeng yang dipergunakan dalam sendratari topeng dibuat dari kertas, kayu, kundur dan bulu binatang. Topeng dalam bahasa Korea disebut “T’al”, memiliki nama tradisonal lain seperti : Komyen, Kwangdae, Ch’orani, T’albak dan T’albagaji. Topeng tradisional terdiri atas topeng religius dan topeng artistik. Beberapa topeng religius melambangkan kesucian yang digunakan dalam sendratari topeng mengenai upacara persembahan pada kuil dan pengusiran roh-roh jahat, termasuk Pangsangshi yang sampai saat ini sering dilihat di awal prosesi pemakaman untuk mendoakan almarhum terhindar dari serangan jahat roh-roh bumi. Topeng artistik sering digunakan untuk sendratari topeng yang juga mempunyai fungsi religius.

Topeng Korea berbentuk padat, tetapi beberapa bagian dapat bergerak seperti bola mata pada topeng Pangsangshi, mulut dari topeng macan dan kedipan mata dari beberapa topeng. Topeng tidak hanya menggolongkan bagian yang diperankan tetapi juga menunjukan struktur tulang, tipe wajah Korea. Merah, hitam, putih dan warna dasar lain yang digunakan memudahkan pencirian karakter dari topeng. Warna tersebut juga menunjukkan karakter dari segi umur dan jenis kelamin. Topeng yang menampilkan orang tua adalah hitam, pria muda dengan warna merah dan wanita muda adalah putih. Secara tradisional, warna hitam sebagai simbol utara dan musim dingin, warna merah sebagai simbol selatan dan musim panas. Tari topeng dipertunjukan pada hari libur utama seperti tahun baru, hari ulang tahun Budha, Festival Tano dan Chusok juga dipertunjukan saat pesta negara, ritual memohon hujan dan ritual adat lainnya.


Tempat pertunjukkan
Secara tradisional, sendratari topeng Korea selalu dipertunjukkan di lapangan terbuka. Selama periode Koryo dan Choson, sendratari topeng dipertunjukan dengan improvisasi panggung yang dinamai Sandae atau di atas tempat yang tinggi sehingga para penonton yang duduk di bawah dapat melihat dengan jelas. Area berlayar yang digunakan sebagai ruang ganti berada di bagian kiri panggung dan para musisi duduk di sebelah kanan panggung. Tarian yang lincah diiringi oleh musik yang penuh semangat dari 3 alat gesek dan 6 alat musik tiup serta instrumen perkusi menjadi bagian utama dari sendratari topeng, yang akan terhenti melalui isyarat tangan pemain yang telah disepakati. Beberapa bagian tidak memiliki dialog tetapi dilakukan dengan pantomin. Para pemain sendratari topeng memiliki kelebihan dalam mengenakan topeng dan menyampaikan karakter mereka secara dramatis.

Seperti yang dituliskan Gustavo Gutierrez dalam bukunya : Theologie de le Liberation Perspective (1974), ‘membangun suatu masyarakat adil saat ini berarti keharusan untuk secara sadar dan aktif terlibat dalam perjuangan kelas yang terjadi nyata di depan mata kita”. Korea salah satu contoh dengan sendratari topengnya, membangun kehidupan sosial yang kokoh dengan melakukan refleksi diri sebagai ciri dan karakter dalam kehidupan tradisional maupun modern secara bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat membangun bangsa dengan melestarikan karya seni tradisional yang berfungsi sebagai pemersatu bangsa juga aset bagi bangsa Korea untuk menarik wisatawan mancanegara berkunjung dan menikmati keindahan alam yang dimiliki Korea, sekaligus mendatangkan devisa negara untuk membantu perekonomian bangsa.


Penulis, dari berbagai sumber….Foto : wikipedia

Rabu, 10 Desember 2008

Pernikahan Adat Dayak Kalis, Leroy Mau Bawa Pulang Pakaian Adat

2 komentar :

WARGA negara Amerika Serikat, Leroy James Bailey, tampak gagah mengenakan pakaian adat Dayak. Laksana pangeran kerajaan, ia tiba di Betang di Jalan Sutoyo Pontianak, Senin (8/12), dengan iringan tabuhan dan tarian. Ia mengendarai mobil bak belakang terbuka yang dihias menyerupai perahu Jajang.

Upacara adat yang dijalani Leroy merupakan lanjutan pernikahan resmi (catatan sipil) bersama Briggita Romanda Kaliska atau Gitta, yang dilakukan di Franklyn Courthouse Louisiana Amerika Serikat pada 27 Juli 2007. Buah cinta pernikahan tersebut adalah Gabriella Anna Marie Bailey atau Gabby yang berusia 11 bulan.
Leroy tampak selalu tersenyum. Ia menjalani prosesi perkawinan adat sub suku Dayak Urang Kalis yang berasal dari Kabupaten Kapuas Hulu. Prosesi tersebut dilaluinya setelah menikahi Gitta, perempuan yang berasal dari daerah itu.
"Upacara ini sangat unik. Ini merupakan kedatangan pertama saya ke sini (Kalimantan Barat) dan juga pengalaman pertama mengikuti upacara seperti ini," tuturnya kepada Tribun di beranda Betang, Senin (8/12), usai melakukan upacara adat.
Leroy yang menuntut ilmu di US Air Force, The Reserve Officers Training Corps (ROTC) Morgan City Los Angeles, mengaku, sedikit bingung dengan prosesi penikahan adat. Ia harus melalui 13 prosesi adat, juga upacara adat Apandaor (menurunkan anak ke tanah/sungai), untuk putrinya.
Hujan deras tak menyurutkan langkah Leroy menjalani setiap prosesi. Meskipun tidak menguasai bahasa Indonesia dan bahasa Dayak Kalis, Leroy sangat serius melalui tahapan upacara pernikahan adat, itu.
Ketika tiba di Betang, Leroy ditunggui Gitta dan Temanggong (tetua adat) yang berdiri di depan sebuah batang kayu yang melintang sebagai Ompang Panyialo (penghalang). Kayu tersebut harus dipatahkannya menggunakan Mandau.
Ada dua penghalang yang harus dipatahkan Leroy. Penghalang tersebut berada di pintu masuk dan depan tangga Betang. Penghalang tersebut merupakan simbol rintangan dalam kehidupan yang harus dilalui oleh Leroy.
"Saya sangat menyukai prosesi mematahkan penghalang. Prosesi itu unik. Karena, usai penghalang dipatahkan, saya disambut pihak keluarga perempuan dan disambut dengan segelas Geram (tuak) dan tarian," tuturnya.
Leroy juga menyukai pakaian adat yang dikenakannya. Menurut Gitta, Leroy pernah mengutarakan hal itu kepada dirinya. Pakaian berbahan manik-manik tersebut ingin dibawa pulang ke Amerika.
"Ia ingin pakaian tersebut menjadi kenang-kenangan pernikahan yang bisa disimpan di rumah. Leroy mengatakan hal itu ketika pertama kali melihat dan mengenakan pakaian adat tersebut," ujar Gitta.
Menurut mahasiswi University of Louisiana Lafayette jurusan Bisnis, itu, ia belum tahu apakah akan memenuhi keinginan Leroy atau tidak. Karena, dirinya masih terfokus pada upacara pernikahan adat terlebih dahulu.


Tentukan Nama Pakai Temu Lawak

SEBAGAI peranakan Amerika Serikat dan Indonesia, khususnya berdarah Dayak Kalis, Gabriella Anna Marie Bailey atau Gabby yang berusia 11 bulan, harus melalui prosesi adat Apandaor (anak turun ke tanah/sungai). Prosesi tersebut diakhiri dengan pemberian nama Dayak, yang ditentukan menggunakan buah Temu Lawak.
Seperti bocah kebanyakan, tingkah Gabby tampak menggemaskan. Ketika alat musik tradisional ditabuh untuk memulai prosesi Apandaor, jemari kedua tangannya berputar, menari. Ketika musik terhenti, jemari tangan kanannya bergerak membuka dan menutup.
Berada digendongan Ir Anna Veridiana I Kalis M Sc, neneknya, Gabby menjadi pusat perhatian tamu yang datang. Bocah itu juga tak rewel ketika kilatan blitz kamera mengarah kepadanya. Bahkan, ia melambaikan tangan kanannya ke arah juru foto.
Kekhawatiran terlihat dari wajah Leroy James Bailey, ayah Gabby, yang selalu mengawasi putrinya dari arah sebelah kanan mertuanya. Beberapa kali ia berbisik pada Brigitta Romanda Kaliska atau Gitta, istrinya, bila ia melihat wajah Gabby menunjukkan akan menangis.
Menurut Gitta, kekhawatiran Leroy muncul bila ada orang baru yang belum dikenal menyentuh atau mengendong putrinya. Perempuan yang menempuh pendidikan di University of Louisiana, itu, mengaku memaklumi kekhawatiran suaminya.
"Apalagi Gabby harus dimandikan sebelum dilakukan pemberian nama. Kondisi hujan dan dingin menyebabkan Leroy khawatir bila kondisi kesehatan Gabby menjadi lemah," tuturnya kepada Tribun di beranda Betang Jalan Sutoyo, Senin (8/12).
Sebuah kolam plastik hijau berdasar kuning yang berisi air dan taburan bunga, diletakkan dekat tangga beranda betang sisi kiri. Kolam itu menjadi tempat mandi Gabby untuk upacara Apandaor. Sebelumnya, air kolam tersebut didoakan oleh Temanggong (tetua adat).
Doa yang dilafalkan dalam bahasa Dayak Kalis meluncur dari mulut Temanggong, seraya mengarahkan ujung mata tombak pada air kolam. Dari gendongan neneknya, Gabby menatap lekat pada Temanggong dan ujung tombak yang mengarah ke tempat mandinya.
Selain dilakukan oleh orangtuanya, prosesi memandikan Gabby juga dilakukan oleh Barcunda Sturjaya SH MM, kakeknya. Sedangkan kakek dan neneknya dari Amerika, tidak bisa menghadiri prosesi adat tersebut.
Menurut Gitta, Louis Adam Topham dan Agnes Giroir Topham, mertuanya, sangat ingin turut serta dalam prosesi adat yang dilakukan. Namun, keinginan tersebut kandas akibat bencana badai Ike dan Gustaf.
"Rumah mertua saya ikut terkena badai tersebut. Mereka memutuskan tidak jadi ikut ke Indonesia karena harus memperbaiki rumah yang terkena badai. Mereka menitip doa buat Gabby, agar prosesi adat ini berjalan dengan lancar," tuturnya.
Usai prosesi Ipamandi (mandi) sebagai satu bagian adat Apandaor, tahapan selanjutnya adalah Yan Tasang (pemberian nama Dayak Kalis). Tiga nama sudah disiapkan untuk Gabby, yang harus dipilih secara berurutan. Yakni Bunga Lita, Indang, dan Kabang.
Uniknya, pemberian nama dilakukan oleh Temanggong dengan bantuan buah temu lawak yang sudah dikupas kulit luarnya. Buah tersebut dibelah menjadi dua bagian sama besar. Menurut Temanggong, pemilihan nama bisa digunakan Gabby, berdasarkan tanda dari buah temu lawak.
"Kalau buah menutup dan membuka, maka nama sudah direstui oleh Yang Kuasa melalui tanda tersebut. Kalau buah tersebut tidak terbuka dan menutup sampai tiga kali, nama pertama yang dipilih dibatalkan dan dilakukan pemilihan nama kedua yang sudah disiapkan. Begitu seterusnya," tuturnya.
Usai melafalkan doa, Temanggong melakukan lemparan pertama buah temu lawak ke udara. Para tamu yang menanti hasil pemilihan nama terlihat tenang. Ketika tiba ke lantai, dua bagian buah tersebut jatuh menutup dan harus diulangi. Nama Bunga Lita untuk Gabby baru diperoleh dalam lemparan yang kedua, setelah buah jatuh dalam posisi berlawanan.
Menurut Anna, nama tersebut sama seperti nama Dayak Kalis yang dimilikinya. Anna mengharapkan keindahan nama Bunga Lita tersebut dapat terpancar dalam sikap dan perilaku Gabby nantinya.

Foto by Ishaq

Minggu, 16 November 2008

Asal Muasal Kerajaan Mempawah

Tidak ada komentar :
Berawal Dari Bangkule Rajank

Kerajaan Mempawah banyak dikenal orang karena pemerintahan raja Opu Daeng Menambon pada 1737-1761. Namun, kerajaan ini sebelumnya sudah ada jauh sebelumnya, sekitar 1380.

Pusat pemerintahan Kerajaan Mempawah pertama kali berdiri di pegunungan Sadaniang. Kerajaan yang terkenal pada saat itu adalah kerajaan suku Dayak, yang dipimpin oleh Raja Patih Gumantar.

Nama kerajaannya adalah Bangkule Rajank, dengan ibukota yang ditetapkan di Sadaniang. Kerajaan tersebut lebih terkenal dengan nama kerajaan Sadaniang, yang menjadi pusat pemerintahan pada saat itu.

Kejayaan kerajaan Bangkule Rajank membuat Kerajaan Suku Biaju (Bidayuh) di Sungkung ingin menguasainya. Perangpun timbul untuk merebut kekuasaan dari tangan Patih Gumantar.

Peperangan kala itu dilakukan dengan cara Kayau (memenggal kepala manusia). Serangan yang tiba-tiba dari kerajaan Bidayuh, membuat Patih Gumantar mengalami kekalahan. Raja yang terkenal gagah berani itu, meninggal akibat terkayau oleh lawannya.

Sejak kematian Patih Gumantar, perlahan-lahan kerajaan Bangkule Rajank mengalami kehancuran. Namun, kerajan ini bangkit kembali sekitar 1610 di bawah pimpinan Raja Kudong.

Kerajaan yang baru terisi oleh Raja Kudong setelah terjadinya perang Kayau, merupakan kepemimpinan baru yang bukan berasal dari keturunan Patih Gumantar. Ia memindahkan pusat pemerintahan kerajaan ke Pekana (sekarang dinamakan Karangan).

Pengganti Raja Kudong adalah Raja Senggaok yang lebih dikenal sebagai Panembahan Senggaok. Pusat pemerintahanpun berpindah lagi ke Senggaok (hulu sungai Mempawah). Raja ini menikahi seorang putri Raja Qahar dari kerajaan Baturizal Indragiri, Sumatera, yang bernama Puteri Cermin.

Ketika mereka menikah, seorang tukang nujum meramal kehidupan mereka. Tukang nujum mengatakan, bila Panembahan Senggaok dan Puteri Cermin melahirkan seorang putri, maka kerajaan nantinya akan diperintah oleh raja yang berasal dari kerajaan lain.

Hasil pernikahan tersebut melahirkan seorang anak perempuan yang dinamai Mas Indrawati. Ketika putri mahkota beranjak dewasa, ia menikah dengan Sultan Muhammad Zainuddin dari kerajaan Matan (Ketapang).

Mas Indrawati melahirkan seorang putri yang berparas cantik. Sultan Muhammad Zainuddin menamai anaknya itu Putri Kesumba, yang akhirnya menikah dengan Opu Daeng Menambon.


Raja Seorang Pelaut

Opu Daeng Menambon bukanlah orang Kalimantan asli. Ia beserta empat orang adiknya berasal dari kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan. Mereka terkenal sebagai pelaut yang handal dan merantau keluar dari tanah kelahirannya.

Lautan yang mereka arungi antara lain Banjarmasin, Betawi, berkeliling hingga Johor, Riau, Semenanjung Melaka. Selama mengarungi lautan, mereka banyak membantu kerajaan-kerajaan kecil yang mengalami kesulitan.

Bantuan yang mereka lakukan tersebut berbentuk membantu kerajaan kecil berperang, baik perang saudara maupun diserang oleh kerajaan lain. Seringnya mereka memenangi peperangan mengakibatkan mereka dikenal banyak orang dan kerajaan.

Merekapun sampai di daerah Kerajaan Tanjungpura (Matan), yang sedang mengalami perang saudara. Penyebab perang tersebut adalah Sultan Muhammad Zainuddin diserang oleh adik kandungnya yang bernama Pangeran Agung.

Pemberontakan dan perampasan tahta kerajaan oleh Pangeran Agung berhasil dipadamkan oleh Opu Daeng Menambon beserta adiknya. Bahkan, Opu Daeng Menambon boleh mempersunting Putri Kesumba. Mereka dikaruniai sepuluh anak, diantaranya adalah Utin Chandramidi dan Gusti Jamiril atau Panembahan Adijaya Kesuma Jaya.

Sekitar tahun 1740, Opu Daeng Menambon dan istrinya menuju ke Mempawah. Merekapun mengunjungi Senggaok dan dilakukan serah terima pemerintahan dari Pangeran Adipati kepada Opu Daeng Menambon. Pusat kerajaan dipindahkan ke Sebukit Rama (sekitar 10 kilometer dari Kota Mempawah).

Opu Daeng Menambon dikenal sebagai raja yang bijaksana. Penduduknya beragama Islam dan taat. Ia selalu bermusyawarah dengan bawahannya dalam memecahkan segala persoalan yang terjadi di kerajaannya.


Gusti Jati Pendiri Kota Mempawah

Gusti Jamiril atau Panembahan Adijaya Kesuma Jaya merupakan penerus tahta kerajaan Mempawah setelah Opu Daeng Menambon meninggal dunia pada 26 Syafar 1175 Hijriah. Masa kepemimpinan Gusti Jamiril membawa kemakmuran wilayah kerajaan yang dikuasainya.

Masa keemasan Gusti Amiril tersebut, bersamaan dengan masa penjajahan Belanda. Bahkan, kerajaan Mempawah selalu bertempur melawan Belanda. Hal itu disebabkan, raja Mempawah diisukan membenci dan akan memberontak pemerintahan Hindia Belanda.

Kabar tersebut membuat Belanda murka dan mengirimkan tentara prajurit yang bermarkas di Pontianak untuk menyerbu kerajaan Mempawah. Gusti Amiril yang mengetahui adanya penyerbuan, memutuskan memindahkan pusat pemerintahan ke Karangan.

Akibat sulitnya medan perjalanan dari Mempawah menuju Karangan, gerakan pasukan Belanda menjadi lamban dan gagal. Kebencian Panembahan Adijaya Kesuma Jaya semakin menjadi kepada Belanda.

Selama hayatnya, Gusti Jamiril berusaha untuk mengusir penjajah Belanda. Bahkan, sebelum meninggal, ia berpesan apabila meninggal dunia, dirinya tidak rela dikebumikan ke luar dari Karangan.

Jabatan raja sepeninggal Gusti Jamiril dipimpin oleh anaknya, Gusti Jati yang bergelar Sultan Muhammad Zainal Abidin. Kedudukan Gusti Jati yang berada di Mempawah, dipercaya sebagai pendiri Kota Mempawah.

Kedudukan Gusti Jati digantikan oleh adiknya yang bernama Gusti Amir dan bergelar Panembahan Adinata Karma Oemar Kamaruddin. Setelah Gusti Amir wafat, ia digantikan oleh anaknya yang bernama Panembahan Mukmin.

Namun, usai penobatan kerajaan dilakukan, Panembahan Mukmin meninggal dunia. Iapun dikenal dengan sebutan Raja Sehari. Karena putranya masih kecil dan dirasa belum mampu mengurus kerajaan, penerus kepemimpinan kerajaan diserahkan kepada adiknya, Gusti Mahmud, yang bergelar Panembahan Muda Mahmud.

Wafatnya Gusti Mahmud digantikan oleh putra Panembahan Mukmin yang bernama Panembahan Usman dan bergelar Panembahan Usman Natajaya Kesuma. Ia mangkat pada 6 Jumadil, awal 1280 Hijriah, dan dimakamkan di Pulau Pedalaman.


Perjuangan Melawan Penjajah

Selepas Panembahan Usman wafat, tampuk kepemimpinan Kerajaan Mempawah dipegang oleh putra Panembahan Muda Mahmud bernama Panembahan Ibrahim Muhammad Tsaifuddin. Masa pemerintahannya inilah, pennindasan penjahan Belanda merajalela dan mengakibatkan masyarakat menderita.

Tak tahan ditindas, masyarakat mulai mengadakan pemberontakan kepada penjajah Belanda. Terlebih, dengan diberlakukannya pembayaran pajak oleh masyarakat dengan cara pemaksaan.

Pemberontakan dilakukan oleh suku Dayak. Peperangan tersebut dikenal dengan nama perang Sangking, hingga mayarakat banyak merasa antipati dengan keberadaan Belanda di tanah kerajaan Mempawah.

Setelah Panembahan Ibrahim Muhammad Tsaifuddin wafat, pimpinan kerajaan yang semula akan diberikan kepada putranya, Gusti Muhammad Taufik. Tetapi, putranya tersebut belum dewasa, hingga kerajaan dipimpin sementara oleh Pangeran Ratu Suri, kakak dari Gusti Muhammad Taufik.

Pada 1902 masehi, Gusti Muhammad Taufik dirasakan sudah cukup umur untuk memimpin kerajaan. Iapun naik tahta dan bergelar Panembahan Muhammad Taufik Accamaddin. Ia ditawan oleh Belanda bersama raja-raja daerah lainnya serta para pemimpin pemuka masyarakat.

Lepas dari tawanan Belanda, Gusti Muhammad Taufik diculik oleh penjajah Jepang. Bersama para tokoh masyarakat yang diculik, ia dibunuh. Lokasi pembunuhan sekaligus tempat pemakaman terjadi di Mandor.

Gusti Muhammad Taufik meninggalkan empat orang anak. Yakni Pangeran Mohammad atau yang saat ini dikenal bernama Drs H Jimmi Mohammad Ibrahim, Pangeran Faitsal Taufik, Pangeran Abdullah, dan Pangeran Ratu Hajjah Thaufiqiyah Mohammad Taufik.

Pada masa itu, dibentuklah Bestuur Komisi sebagai pengganti raja yang diketuai oleh Pangeran Wiranata Kesuma (1944-1946).


Akhir Kepemimpinan Kerajaan Mempawah

Sebelum pendaratan pasukan sekutu di Kalimantan Barat, Pangeran Mohammad yang baru berumur 13 tahun pernah diangkat menjadi panembahan (tokoh) Mempawah oleh pemerintah bala tentara Jepang dalam suatu upacara di depan gedung Kerapatan.

Tokoh-tokoh masyarakat kemudian melakukan lagi upacara penobatan yang sama pada tahun 1946. Tahun ini pula Belanda (NICA) datang lagi ke Mempawah dan mencoba mengangkat raja kembali.

Karena Panembahan Pangeran Mohammad (Drs H Jimmi Mohammad Ibrahim) belum dewasa dan ingin melanjutkan sekolahnya yang baru duduk di kelas VSD (Jokio Ko Gakko), ia tidak bersedia diangkat kembali.

Pengganti Pangeran Mohammad adalah Gusti Musta’an yang menjadi raja sementara bergelar ‘wakil panembahan’ hingga tahun 1955. Meskipun sudah pernah dinobatkan secara formal menjadi Panembahan dan sudah dewasa, Pangeran Mohammad menyatakan tidak bersedia menggantikan ayahnya sebagai raja.

Penolakan tersebut dikarenakan dirinya ingin terus melanjutkan pendidikannya di perguruan tingga Gadjah Mada Yogyakarta. Keputusannya itu mengakhiri kepemimpinan kerajaan Mempawah.

Sejak berdirinya kerajaan Mempawah hingga berakhirnya masa kepemimpinan berakhir, kerajaan sudah mengalami perpindahan pusat kerajaan sebanyak lima kali. Yakni pegunungan Sadaniang, Pekana, Senggaok, Sebukit Rama, dan Mempawah.

Raja yang memimpin kerajaan Mempawah dibagi dalam dua zaman, yaitu zaman Hindu dan Islam. Zaman Hindu dipimpin oleh tiga raja, sedangkan zaman Islam dipimpin oleh 13 raja.

Raja zaman Hindu adalah Patih Gumantar, Raja Kudong, dan Panembahan Senggaok. Raja zaman Islam adalah Opu Daeng Menambon, Gusti Jamiril, Syarif Kasim, Syarif Husein, Gusti Jati, Gusti Amir, Gusti Mukmin, Gusti Mahmud, Gusti Usman, Gusti Ibrahim, Muhammad Tsafiudin, Drs Gusti H Jimmi Muhammad Ibrahim, dan Ir Mardan Adijaya M Sc P Hd.


Sumber : Mempawah Tempoe Doeloe




Rabu, 27 Februari 2008

Betang Saham, Peradaban Yang Tergerus Waktu

1 komentar :



Borneo Tribune, Ngabang
Dinding bangunan betang (Rumah Panjang) Saham kini hanya menggunakan papan biasa yang sudah terlihat kusam. Lantai terasnya pun berupa potongan-potongan kayu tua yang mulai lapuk. Saksi sejarah tersebut kini semakin renta.
Bangunan Betang Saham yang dahulunya terlihat megah (karena dibangun dengan kayu Ulin/Belian), namun kini kondisinya sungguh memprihatinkan. Seolah-olah tidak ada usaha dari pihak manapun untuk merenovasi bagunan ini.
Padahal, kalau kita lihat. Fungsi Betang merupakan sentral aktifitas suku Dayak. Dimana tatanan sosial, ekonomi, budaya dan politik, terjadi di dalam rumah panjang dengan hall (ruangan) yang luas di bagian tengahnya. Masyarakat yang tinggal di Rumah Betang masih memegang teguh adat istiadat, tradisi atau budaya, dan memegang teguh kehidupan bersama serta bergotong royong.
Berdasarkan cerita dari leluhur atau sesepuh Rumah Betang yang terletak di Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak. Betang tersebut merupakan tempat tinggal masyarakat Dayak Kanayant. Betang Saham berdiri sejak 1875. Bangunan ini terdiri dari 35 pintu atau blok. Setiap pintu atau blok dihuni oleh 1 kepala keluarga dan panjangnya 180 meter.
Menurut Ibu Sofa, penghuni Betang Saham, yang ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu. Saat ini Betang hanya berpenghuni 32 kepala keluarga. “Dua pintu kosong dan 1 pintu digunakan untuk perpustakaan,” ujarnya. Perpustakaan tersebut merupakan bantuan dari Dinas Pendidikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Landak.
Menurut Drs. Bartho, Kepala Seksi (Kasi) Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Landak, perpustakaan yang ada di Betang Saham masih menempati kamar yang biasanya digunakan sebagai penginapan bagi para turis. “Sebenarnya lokasi perpustakaan tersebut sudah ditentukan di kamar paling ujung,” ujarnya.
Dalam kehidupan bermasyarakat, penghuni Betang Saham memiliki Pasirah (orang yang dituakan), yaitu pak Ngidar. Selain itu adapula Kepala Desa, Pak Jimpol, yang sudah memimpin selama 4 (empat) periode.
Mata pencaharian penghuni Betang Saham sebagian besar adalah petani. Yang mengolah lahan di sekitar Betang. Mata pencaharian lain mereka adalah sebagai penyadap karet. Bartho mengatakan masyarakat yang ada di Desa Saham sudah sejak 1980 lalu menolak masuknya perkebunan sawit di Desa mereka.

Sudah Mengajukan Renovasi
Tampilan fisik Betang Saham yang sudah terlihat dimakan usia, ternyata sudah beberapa kali diajukan untuk direnovasi. Menurut Bartho, pengajuan kepada pihak Pemkab Pontianak (Kabupaten Landak merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Pontianak pada 1999 lalu) tersebut mulai dilakukan pada 1983. “Terutama untuk pelataran depan,” ujarnya. Akan tetapi belum ada tanggapan sama sekali.
Pengajuan renovasi pun kembali diutarakan pada 1989 dan 1994. Namun tetap saja, ujar Bartho, tidak ada alokasi dana yang disediakan untuk membiayai renovasi Betang Saham tersebut.
Ketika pemekaran terjadi pada 1999 lalu, ujar Bartho, Pemda Landak mengutamakan pembangunan infrastruktur. “Kita (Dinas Pariwisata) memaklumi hal itu,” ujarnya. Dikarenakan infrastrutur yang ada di Landak dulunya masih belum memadai. Dimana untuk menciptakan pembangunan di suatu daerah, harus memiliki infrastruktur yang memadai dan mudah untuk dilalui sebagai jalur transportasi dan perdagangan.
Angin segar mengenai renovasi Betang Saham baru diperoleh pada 2008 ini. ‘Dinas Pariwisata Provinsi sudah mengadakan pengukuran untuk renovasi Betang,” ujar Bartho. Bersama dengan Dinas Keperbukalaan dari Jakarta.
Meskipun sudah dilakukan pengukuran, ujar Bartho, namun kita belum tahu realisasinya. “Harapan kita Betang Saham bisa bertahap di renovasi,” ujarnya. Sebagai aset daerah yang dapat menambah khasanah budaya di Kalimantan Barat.
Selain itu pula, lanjut Bartho, renovasi ini jangan hanya merupakan agenda kerja Dinas Pariwisata tingkat Provinsi saja. “Setidaknya juga dari pemerintah pusat dan pemda Landak,” ujarnya. Dengan pendanaan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) dan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).
Sehingga kepedulian terhadap pelestarian budaya yang beragam di Indonesia, yang berada di daerah luar Jawa juga menjadi perhatian yang serius dari pemerintah pusat.

Maju Dalam Pendidikan
Meskipun masih memegang teguh pada pola tradisional dalam hal adat, masyarakat Desa Saham sangat peduli terhadap pendidikan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perpustakaan yang ada di Betang Saham. Menurut Bartho, mayoritas masyarakat Desa Saham mengenyam pendidikan hingga tingkat Sarjana.
Penuturan Bartho bukan hanya isapan jempol belaka. Beberapa putra terbaik yang berasal dari Desa Saham, kini sudah menempati posisi penting di tingkat pemerintahan dan juga kalangan akademisi.
Sebut saja Dr. Bahari Sinju S, yang lahir dan hidup di Betang Saham. Beliau merupakan alumnus IKIP (Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Karang Malang Yogyakarta. Saat ini beliau adalah seorang dosen di FKIP (Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan) Universitas Tanjungpura. Beliau juga sebagai peneliti Dayak Kanayant di Institute of Dayakology Research and Development (IDRD).
Keterwakilan perempuan dari Desa Saham dalam bidang Akademis dipelopori oleh Dr. Regina. Beliau saat ini juga menjadi peneliti dan tenaga pengajar di FKIP Untan.
Di tingkat Pemerintahan, salah satu putra terbaik Desa Saham saat ini menjabat sebagai Bupati di Kabupaten Landak. Beliau adalah Drs. Adrianus Asia Sidot, M.Si. Selain menjabat sebagai Bupati, beliau juga ketua Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) wilayah Kalbar. Beliau juga kandidat Doktor dari salah satu Universitas di Jakarta.
Walaupun kondisi masyarakat Desa Saham masih terbelakang dan sering dipandang sebelah mata, tetapi mereka juga memiliki putra-putri terbaik yang dapat dijadikan motivator. Dan mampu berkecimpung di ranah pendidikan dan pemerintahan. Hal ini menjadi suatu kebanggaan, dimana dari Desa terpencil. Mereka memiliki potensi yang besar dan patut diperhitungkan.

Keraton Pakunegara Kesuma Peninggalan Kerajaan Tayan

1 komentar :



Borneo Tribune, Tayan
Sejarah kerajaan Islam, ternyata sangat banyak ditemui di Kalimantan Barat. Salah satunya dapat dilihat dari sisa-sisa peninggalan kerajaan yang masih tersimpan rapi di keraton Pakunegara Kesuma. Yang terletak di kampung Pedalaman, desa Pedalaman, Kecamatan Tayan Hilir, Sanggau.
Keraton Pakunegara Kesuma menghadap ke sungai Kapuas, yang memisahkan desa Pedalaman dan desa Pulau. Jalan dari Keraton menuju sungai Kapuas berupa jalan dengan lebar sekitar setengah meter dan berjarak sekitar 100 meter. Jalan tersebut bukan dari tanah, melainkan semen yang tampak masih baru.
Sisi kiri dan kanan jalan tersebut, tersimpan masing-masing 3 buah meriam, berjarak sekitar 20 meter satu dengan lainnya. Pada meriam paling ujung sebelah kanan jalan menuju sungai, tertulis 1698 pada badan meriam bagian pangkal. Di atas tahun tersebut terdapat simbol berbentuk layang-layang dengan huruf O di sisi kiri dan C di sisi kanan. Kemungkinan meriam tersebut bekas VOC yang tersisa dari masa peperangan.
Bangunan keraton di dominasi cat kuning, yang didirikan dari bahan kayu belian. Keraton hampir menyerupai betang dalam hal tinggi rumah. Atap rumah mengkerucut ke atas.
Tangga rumah menghubungkan antara badan jalan dengan pintu yang menuju ruang utama. Sebagian pintu dan jendela keraton berupa bingkai kaca. Satu kaca terlihat pecah pada bagian kiri paling bawah.
Ruang tamu terlihat sangat luas. Seperangkat bangku dari bahan kayu, diletakkan di sisi kiri ruang tamu, dekat jendela. Dua buah kaca peninggalan kerajaan menempel di sisi kiri dan kanan pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruangan bagian dalam. Kaca tersebut berdekatan dengan tanduk kerbau dan tempat lilin yang berada di bagian dalam.
Di atas pintu penghubung tersebut, tergantung gambar Gusti Djafar (Raja Tayan ke-12) yang menjadi salah satu korban di Mandor.
Penghubung antara ruang tamu dan ruang utama, berupa sebuah ruangan dalam ukuran kecil. Di sisi kiri dan kanan ruangan ini ada dua pintu kamar. Begitu pula pintu untuk menuju ruang utama, ada di tepi paling kiri dan kanan. Dengan meriam kecil yang berada di sisi kedua pintu tersebut.
Ruang utama berupa ruangan yang sangat luas. Tempat sentral bagi singasana kerajaan berada satu garis lurus dengan pintu keraton yang menghadap ke sungai. Ruangan khusus tersebut dihiasi dengan motif pada sisi luarnya. Kaca nako tiga warna, berada di kedua sisi. Pagar kecil seperti menjadi pembatas untuk ruangan tersebut dengan kamar yang ada di tiap sisinya. Isi ruangan tersebut saat ini hanya sebuah tempat tidur raja yang tinggal rangkanya saja. Ruangan tersebut juga digunakan sebagai tempat pelaminan dan upacara adat berlangsung.
Sebuah tangga menghubungkan lantai atas dan bawah. Lantai atas berfungsi sebagai ruang kamar bagi keluarga Raja, yang masih digunakan hingga raja ke-12.
Menurut Gusti Dadang Kabri (43), anak dari Gusti Ismail (Raja Tayan ke-13), keraton Pakunegara Kesuma memiliki luas lokasi 2 hektar. Lokasi tersebut termasuk untuk sebuah masjid yang berdiri tak jauh dari keraton, di sisi kanan jalan.
Kamar yang ada di keraton saat ini berjumlah 3 ruangan. Yang dihuni oleh 2 kepala keluarga (KK), masih kerabat raja sendiri. “25 tahun lalu masih banyak keluarga yang tinggal di keraton,” ujar Gusti Dadang. Sebanyak 8 KK yang ada saat itu, akan tetapi secara perlahan mereka membangun rumah sendiri dan ada yang berpindah ke Pontianak dan Sanggau.
Gusti Dadang mengatakan bahwa fisik bangunan yang ada hingga saat ini tidak pernah dirubah. “Dari dulu sampai sekarang, keraton ini ya seperti ini,” ujar Gusti Dadang. Sebagian lantai keraton yang terbuat dari kayu belian bahkan sudah kelihatan berlubang.

Peninggalan Keraton
Sebuah ruang kamar dengan tirai kuning dijadikan tempat untuk menyimpan benda-benda peninggalan Keraton Pakunegara Kesuma. Ruang yang berukuran sekitar 4x4 meter tersebut hanya berisi sebuah lemari kayu yang sudah tua.
Di atas lemari tersebut ada sebuah lemari kecil yang ditutup dengan kain kuning. Menurut Gusti Dadang, isi lemari tersebut adalah laras senapang yang dkeramatkan. Gusti Dadang pun komat-kamit sebentar, membacakan sesuatu secara perlahan. Tirai pun dibuka secara perlahan dan membuka laras yang masih dibungkus dengan kain kuning pula. Secara perlahan Gusti Dadang mengambil laras tersebut. “Jangan disentuh,” ujar Gusti Dadang yang tampak memegang beban sangat berat ketika mengangkat laras senapang tersebut.
Benda tersebut merupakan peninggalan sejarah yang diberikan Gusti Mohammad Ali (Raja ke-10). Menurut Gusti Dadang, berdasarkan cerita yang didengarnya. Laras sepang tersebut sudah berada di keraton sejak 1683.
Benda peninggalan keraton lainnya berupa koin dan uang kertas, perisai perang dari tembaga, bokor dan tempat menyimpan peralatan untuk menyirih, kopiah, keramik antik, gong, kain penutup keranda untuk raja yang mangkat, alat mendulang emas, dan baju raja.
Gusti Dadang memberitahu bahwa laras sepang tersebut ada sepasang. Menurutnya, laras yang besar menunjukkan laras senapang laki-laki yang bernama Raden Jimadin. Sedangkan yang kecil merupakan laras senapang perempuan yang bernama Raden Ayu.
Kedua laras senapang tersebut selalu dimandikan setiap 1 Muharam. “Masyarakat biasanya mengambil air bekas memandikan laras senapang tersebut,” ujar Gusti Dadang. Air yang diambil digunakan untuk menyiram tanaman agar subur, siram benih, dan ada yang digunakan sebagai minuman.
Masyarakat sekitar juga ada yang percaya bahwa air bekas pemandian tersebut dapat pula menjadi obat untuk penyakit cacar, diare, dan lainnya.
Cara memandikan laras senapang tersebut, ujar Gusti Dadang, dengan memasukkan air dari mulut laras. Sebuah lubang kecil di bagian pangkalnya merupakan tempat keluarnya air bekas memandikan laras.
Menurut Gusti Dadang, air yang keluar dari lubang kecil tersebut akan berhenti dengan sendirinya sebagai tanda acara mandi sudah selesai. “Padahal air untuk memandikan dimasukkan terus,” ujar Gusti Dadang.
Cerita penemuan kedua laras senapang tersebut pun tak kalah misterusnya. Sebuah penemuan peninggalan sejarah yang cukup unik. Gusti Dadang menceritakan bila kedua laras tersebut ditemukan oleh seorang nelayan ketika sedang memancing.
Laras tersebut ditemukan di kampung Labai dalam posisi timbul dipermukaan sungai dalam jumlah yang banyak. “Akan tetapi hanya bisa diambil dengan cara dipancing,” ujar Gusti Dadang. Hasil pancingan yang diperoleh pun hanya dua buah.
Malam hari setelah mendapatkan laras tersebut. Nelayan tersebut pun mendapatkan mimpi, dimana ada orang tua yang ingin agar laras tersebut dibawa ke keraton. Nelayan tersebut pun membawa laras senapang ke keraton.
Gusti Dadang memberitahu bahwa upacara 1 Muharam yang dilakukan oleh leluhur pada dulunya dengan mengelilingi kota Tayan. “Menggunakan bandong membawa laras tersebut,” ujar Gusti Dadang. Setelah itu diadakan perang ketupat.

Raja Penerus
Gusti Dadang dan Gusti Baliah, merupakan anak dari Gusti Ismail. Tampuk kepemimpinan seharusnya secara otomatis menjadi hak salah satu diantara mereka. Akan tetapi, dengan rendah hati mereka berujar bahwa Indonesia merupakan negara kesatuan dan kerajaan Tayan berada di dalamnya. “Gelar merupakan garis yang bisa berlaku ketika Indonesia belum merdeka,” ujar Gusti Dadang.
Ketika ditanya apakah ada proses pemilihan yang dilangsungkan untuk memilih raja, Gusti Baliah tersenyum kecil. “Mungkin masih 20 puluh tahun ke depan,” ujarnya. menurutnya tidak mudah mencari figur yang diinginkan untuk menjadi seorang raja.
Proses pemilihan pun tidak hanya dilakukan oleh satu keluarga saja. “Perlu rapat keluarga besar,” ujar Gusti Baliah. Rapat ini untuk menentukan calon dan menentukan raja sesuai dengan figur yang diinginkan.
Gusti Barliah memberitahu bila keluarga besar dikumpulkan, tidak hanya dari Tayan saja. Akan tetapi harus dirunut lagi garis keturunan yang masih ada.
Keinginan Gusti Barliah saat ini pun tidak muluk-muluk. Menurutnya, negara kita merupakan negara yang merdeka. “Kita hanya perlu menunggu dan menjaga budaya serta peninggalannya,” ujar Gusti Barliah.

Jumat, 22 Juni 2007

Pelaksanaan adat Ngampar bide di betang

Tidak ada komentar :


Borneo Tribune, Pontianak

Berbagai persiapan menyambut kegiatan gawai Dayak se Kalimantan telah dipersiapkan panitia. Betang yang terletak di Jalan Sutoyo tampak mulai ramai dan semarak dihias berbagai pernik yang indah. Umbul-umbul juga dipasang disana.
Jumat (18/05), acara ngampar (hampar) bide pertanda gawai akan dilaksanakan telah dipersiapkan cukup matang. Saat itu acara dipimpin panyangahatn (pembaca doa) Kasausius Kasan (57). Berbagai hasil bumi sebagai simbol panen dikeluarkan untuk didoakan.
Acara ini merupakan salah satu dari rangkaian acara adat yang akan dilaksanakan di betang, sekaligus sebagai pembuka acara adat. “Makna dari hampar bide sendiri adalah sebagai pertanda kesiapan dalam menerima tamu dalam gawai,” terang Britius Erik, panitia penyelenggara adat Ngampar bide, menjelaskan.
Secara historis, hampar bide dilaksanakan setiap tahun, setelah panen. Hal ini sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diberikan oleh Yang Kuasa.
Menurut Martinus, pengurus adat Sungai Raya, apabila ada kekurangan dalam pelaksanaan acara tersebut, pasti ada pertanda yang menunjukkan sesuatu tidak baik. “Bahkan, panyangahatn dapat menjadi kerasukan,” ungkapnya.
Hampar bide sendiri, terdiri atas beberapa prosesi. Pertama upacara bapipis manta atau nyangahatn manta’ (doa dengan menyajikan hasil bumi, ayam, dan daging babi yang belum dimasak), nyangahatn masak (doa dengan hasil bumi, daging ayam, dan daging babi yang sudah dimasak), pantak Ne’ Ringo (doa kepada pamangka atau penunggu betang untuk keselamatan), dan bapadah ka rumah panyugu (menyerahkan hasil panen dan permisi untuk melaksanakan acara gawai).
Doa yang dipanjatkan, berdasarkan kondisi dengan tujuan yang sama, yaitu keselamatan dan berkah. Panyangahant sendiri mengucapkan doa-doa secara spontan, tanpa teks. Hal ini tidak dipelajari sebelumnya. “secara turun-temurun,” ujar Kasan.
Kasan melanjutkan, bahwa pangkaras janganlah dilupakan dalam acara ini (melalui simbol koin yang diletakkan pada beras dalam piring). Karena pangkaras menunjukkan sumangat atau jiwa kita. Diharapkan dengan doa yang dipanjatkan, semua sumangat dalam hasil panen, dapat kembali dengan berlimpah.
Acara adat lain yang akan dilakukan di betang adalah adat baliant, mamandung, nginjak tanah, mamandank, dan adat ngayau.