Sabtu, 01 Oktober 2011
5 Langkah Menjadi Penulis Online
Apakah anda belum memiliki pekerjaan tetap dan senang menulis? Apakah tulisan-tulisan Anda hanya disimpan dalam lemari besi yang kuncinya hanya bisa dibuka oleh Anda sendiri? Jangan sia-siakan waktu Anda. Cobalah untuk menjadi seorang penulis online. Tulisan Anda tidak akan menjadi catatan usang, bahkan dibayar. Namun, bagaimanakah caranya untuk memulai karir sebagai penulis online?
Perkembangan teknologi terutama internet menjadikan informasi memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Rasa penasaran dan keingintahuan manusia yang tinggi akan informasi terbaru di luar lingkungannya, membuka peluang yang besar bagi penulis online sebagai pemberi informasi yang dibutuhkan oleh orang banyak.
Sebagai seorang yang memiliki bakat menulis, segera tangkap peluang tersebut. Selain untuk mengasah kemampuan menulis, pundi-pundi uang anda pun akan terisi uang sebagai upah jerih payah Anda dalam menulis.
Berikut lima langkah dasar untuk menjadi penulis online.
1. Cari portal media yang membuka kolom untuk penulis tamu di internet Sebagai pemula yang akan memulai menjadi penulis online, cobalah untuk mencari portal media yang menyediakan kolom untuk menulis. Daftarkan diri Anda sebagai member dan sering-seringlah mengirimkan tulisan di portal media itu. Bila tulisan Anda berkualitas dan memiliki informasi baru yang diinginkan oleh banyak orang, bisa saja tulisan Anda dijadikan tulisan berita untuk portal media mereka. Selain membuka peluang sebagai penulis online, Anda juga sudah memiliki relasi dan pembaca tetap yang menyukai tulisan-tulisan Anda.
2. Miliki blog atau website Anda sendiri
Cara lain yang perlu Anda lakukan untuk menjadi seorang penulis online adalah dengan memiliki blog atau website sendiri. Buatlah tulisan dengan satu topic khusus yang mungkin dibutuhkan oleh orang banyak, dan fokuslah. Contohnya menulis tentang makanan, politik, atau catatan harian yang menarik untuk dibaca. Sebarkan blog atau website Anda, siapa tahu ada media portal yang membutuhkan materi tulisan sesuai dengan isi blog atau website Anda.
3. Jeli melihat perubahan di sekitar lingkungan Anda
Kebanyakan orang berpikir bahwa tidak ada hal menarik di lingkungan sekitarnya. Padahal, mungkin saja ada sesuatu perubahan yang terjadi dan sangat menarik untuk orang lain yang tidak mengetahuinya. Tulislah perubahan di lingkungan sekitar Anda itu dalam bentuk berita dan tawarkan ke portal media. Bila tulisan Anda berisi informasi terbaru yang dibutuhkan banyak orang dan layak untuk dipublikasikan, Anda pasti akan mendapat bayaran untuk tulisan tersebut. Siapa tahu Anda juga mendapat tawaran untuk menjadi penulis online tetap di portal media mereka.
4. Ikut lomba menulis di media online
Jangan takut untuk mengikutsertakan tulisan-tulisan Anda dalam lomba menulis di media online. Siapa tahu tulisan Anda berhasil memenangkan lomba tersebut. Biasanya, portal media melihat latar belakang penulis online yang akan mereka rekrut. Mungkin saja lomba menulis yang Anda menangkan bisa menjadi kredit point bagi Anda untuk mendapatkan pekerjaan sebagai penulis online.
5. Asah terus kemampuan menulis Anda
Sebagai seorang penulis online, Anda dituntut untuk mampu menulis semua topic seperti politik, hiburan, hukum, lingkungan, penelitian, dan sebagainya. Karena itu, teruslah mengasah kemampuan menulis Anda. Tentunya, dengan gaya tulisan Anda sendiri. Jadilah diri sendiri saat Anda menulis dan jangan sekali-sekali untuk menjiplak tulisan orang lain.
Seperti kata pepatah, di mana ada kemauan di situ ada jalan. Silakan Anda aplikasikan lima langkah tersebut untuk mewujudkan impian Anda menjadi penulis online. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan selamat mencoba.
Perkembangan teknologi terutama internet menjadikan informasi memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Rasa penasaran dan keingintahuan manusia yang tinggi akan informasi terbaru di luar lingkungannya, membuka peluang yang besar bagi penulis online sebagai pemberi informasi yang dibutuhkan oleh orang banyak.
Sebagai seorang yang memiliki bakat menulis, segera tangkap peluang tersebut. Selain untuk mengasah kemampuan menulis, pundi-pundi uang anda pun akan terisi uang sebagai upah jerih payah Anda dalam menulis.
Berikut lima langkah dasar untuk menjadi penulis online.
1. Cari portal media yang membuka kolom untuk penulis tamu di internet Sebagai pemula yang akan memulai menjadi penulis online, cobalah untuk mencari portal media yang menyediakan kolom untuk menulis. Daftarkan diri Anda sebagai member dan sering-seringlah mengirimkan tulisan di portal media itu. Bila tulisan Anda berkualitas dan memiliki informasi baru yang diinginkan oleh banyak orang, bisa saja tulisan Anda dijadikan tulisan berita untuk portal media mereka. Selain membuka peluang sebagai penulis online, Anda juga sudah memiliki relasi dan pembaca tetap yang menyukai tulisan-tulisan Anda.
2. Miliki blog atau website Anda sendiri
Cara lain yang perlu Anda lakukan untuk menjadi seorang penulis online adalah dengan memiliki blog atau website sendiri. Buatlah tulisan dengan satu topic khusus yang mungkin dibutuhkan oleh orang banyak, dan fokuslah. Contohnya menulis tentang makanan, politik, atau catatan harian yang menarik untuk dibaca. Sebarkan blog atau website Anda, siapa tahu ada media portal yang membutuhkan materi tulisan sesuai dengan isi blog atau website Anda.
3. Jeli melihat perubahan di sekitar lingkungan Anda
Kebanyakan orang berpikir bahwa tidak ada hal menarik di lingkungan sekitarnya. Padahal, mungkin saja ada sesuatu perubahan yang terjadi dan sangat menarik untuk orang lain yang tidak mengetahuinya. Tulislah perubahan di lingkungan sekitar Anda itu dalam bentuk berita dan tawarkan ke portal media. Bila tulisan Anda berisi informasi terbaru yang dibutuhkan banyak orang dan layak untuk dipublikasikan, Anda pasti akan mendapat bayaran untuk tulisan tersebut. Siapa tahu Anda juga mendapat tawaran untuk menjadi penulis online tetap di portal media mereka.
4. Ikut lomba menulis di media online
Jangan takut untuk mengikutsertakan tulisan-tulisan Anda dalam lomba menulis di media online. Siapa tahu tulisan Anda berhasil memenangkan lomba tersebut. Biasanya, portal media melihat latar belakang penulis online yang akan mereka rekrut. Mungkin saja lomba menulis yang Anda menangkan bisa menjadi kredit point bagi Anda untuk mendapatkan pekerjaan sebagai penulis online.
5. Asah terus kemampuan menulis Anda
Sebagai seorang penulis online, Anda dituntut untuk mampu menulis semua topic seperti politik, hiburan, hukum, lingkungan, penelitian, dan sebagainya. Karena itu, teruslah mengasah kemampuan menulis Anda. Tentunya, dengan gaya tulisan Anda sendiri. Jadilah diri sendiri saat Anda menulis dan jangan sekali-sekali untuk menjiplak tulisan orang lain.
Seperti kata pepatah, di mana ada kemauan di situ ada jalan. Silakan Anda aplikasikan lima langkah tersebut untuk mewujudkan impian Anda menjadi penulis online. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan selamat mencoba.
Selasa, 23 Agustus 2011
Bubur Pedas, Kuliner Asli Sambas Jadi Ikon Kuliner Sarawak
Kabupaten Sambas di Kalimantan Barat memiliki makanan khas yang disebut bubur pedas. Meski nama makanan khas tersebut berbanderol kata “pedas” yang akan membuat pencinta kuliner yang tidak suka rasa pedas bergidik ngeri, saat disuguhkan pasti akan minta tambah lagi. Karena, bubur pedas adalah bubur yang terbuat dari campuran sayur mayur dan saat diolah tidak ada dicampurkan bahan cabai sedikitpun.
Sayuran yang digunakan sebagai bahan untuk membuat bubur pedas adalah sayuran tradisional. Seperti pakis, daun lengkuas, dan sebagainya. Campuran aneka sayuran ke dalam beras yang disangrai ini sangatlah harum dan menggugah selera. Apalagi bila ditambahkan dengan ikan teri dan kacang tanah yang digoreng. Semakin ‘nendang’ rasanya. Masyarakat Kalimantan Barat khususnya Sambas, pastilah bangga memiliki makanan khas ini. Karena, mudah membuatnya dan memiliki kandungan gizi cukup yang menyehatkan.
Namun, ada berita mengejutkan. Berdasarkan berita yang saya baca di satu koran lokal, Selasa (23/8), yang melansir berita Utusan Malaysia Jumat (19/8), bubur pedas menjadi ikon wisata kuliner Sarawak. Isi berita tersebut adalah digelarnya festival produk makanan lokal di Sarawak selama bulan Ramadan, di Kampung Melayu Pangkalan Bau. Menurut Menteri Muda Alam Sekitar Negeri Sarawak, Datuk Peter Nansian Ngusie, festival tersebut adalah komitmen pihak pemerintah Sarawak, Malaysia, untuk mempromosikan bubur pedas sebagai ikon wisata kuliner . Tampaknya, bubur pedas menjadi daftar berikutnya yang akan segera diklaim Negara tetangga sebagai makanan khas mereka.
Salahkah Negara tetangga kita tersebut bila mengakui bubur pedas sebagai ikon kuliner wisata mereka? Secara ego saya mengatakan salah besar. Namun, bila melihat kembali bagaimana kepedulian kita terhadap budaya dan kuliner yang dimiliki, saya tidak bisa berkata apa-apa. Lidah kita saat ini teramat bangga akan kuliner kebarat-baratan. Sehingga, melupakan rasa bangga akan nikmatnya kuliner yang ada dari negeri sendiri.
Contohnya selama bulan Ramadan ini iklan televisi selalu menampilkan tempat dan aneka makanan ‘luar’ yang menggiurkan untuk acara buka puasa bersama. Tidak ada saya menyaksikan produk iklan untuk mengajak masyarakat untuk berbuka puasa sekeluarga di rumah dengan kuliner asli Indonesia. Nah, apakah kita baru berteriak lagi saat budaya dan kuliner kita satu persatu ‘dicuri’ padahal kita sendiri kurang menghargai budaya dan kuliner Indonesia yang ada?
AYO KITA SEGERA INTROSPEKSI DIRI. JANGAN SAMPAI BARU BERTERIAK SAAT BUDAYA DAN KULINER KITA SUDAH DICURI!
Sayuran yang digunakan sebagai bahan untuk membuat bubur pedas adalah sayuran tradisional. Seperti pakis, daun lengkuas, dan sebagainya. Campuran aneka sayuran ke dalam beras yang disangrai ini sangatlah harum dan menggugah selera. Apalagi bila ditambahkan dengan ikan teri dan kacang tanah yang digoreng. Semakin ‘nendang’ rasanya. Masyarakat Kalimantan Barat khususnya Sambas, pastilah bangga memiliki makanan khas ini. Karena, mudah membuatnya dan memiliki kandungan gizi cukup yang menyehatkan.
Namun, ada berita mengejutkan. Berdasarkan berita yang saya baca di satu koran lokal, Selasa (23/8), yang melansir berita Utusan Malaysia Jumat (19/8), bubur pedas menjadi ikon wisata kuliner Sarawak. Isi berita tersebut adalah digelarnya festival produk makanan lokal di Sarawak selama bulan Ramadan, di Kampung Melayu Pangkalan Bau. Menurut Menteri Muda Alam Sekitar Negeri Sarawak, Datuk Peter Nansian Ngusie, festival tersebut adalah komitmen pihak pemerintah Sarawak, Malaysia, untuk mempromosikan bubur pedas sebagai ikon wisata kuliner . Tampaknya, bubur pedas menjadi daftar berikutnya yang akan segera diklaim Negara tetangga sebagai makanan khas mereka.
Salahkah Negara tetangga kita tersebut bila mengakui bubur pedas sebagai ikon kuliner wisata mereka? Secara ego saya mengatakan salah besar. Namun, bila melihat kembali bagaimana kepedulian kita terhadap budaya dan kuliner yang dimiliki, saya tidak bisa berkata apa-apa. Lidah kita saat ini teramat bangga akan kuliner kebarat-baratan. Sehingga, melupakan rasa bangga akan nikmatnya kuliner yang ada dari negeri sendiri.
Contohnya selama bulan Ramadan ini iklan televisi selalu menampilkan tempat dan aneka makanan ‘luar’ yang menggiurkan untuk acara buka puasa bersama. Tidak ada saya menyaksikan produk iklan untuk mengajak masyarakat untuk berbuka puasa sekeluarga di rumah dengan kuliner asli Indonesia. Nah, apakah kita baru berteriak lagi saat budaya dan kuliner kita satu persatu ‘dicuri’ padahal kita sendiri kurang menghargai budaya dan kuliner Indonesia yang ada?
AYO KITA SEGERA INTROSPEKSI DIRI. JANGAN SAMPAI BARU BERTERIAK SAAT BUDAYA DAN KULINER KITA SUDAH DICURI!
Sabtu, 20 Agustus 2011
Nasionalisme Ala Dusun Nanga Sungai
Perjalanan darat selama 22 jam menggunakan kendaraan travel dari Pontianak menuju daerah hulu Kalimantan Barat, Selasa (28/6), sangatlah melelahkan. Lobang menjadi penghias jalan sepanjang ± 800 kilometer. Namun, bukan menjadi penghalang bagi saya untuk mengunjungi sebuah dusun bernama Nanga Sungai, Desa Saujung Giling Manik, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Kebetulan, kedatangan saya untuk menghadiri acara adat Mandaas, yakni acara adat melayat yang dilakukan oleh suku Dayak Tamambaloh.
Perjalanan tersebut merupakan pengalaman pertama saya menuju dusun yang berada di ujung Desa Benua Martinus. Dusun sepi dengan penerangan listrik yang berasal dari mesin genset. Sekitar 60 kepala keluarga menempati dusun tersebut, dengan mata pencaharian masyarakat sehari-sehari sebagai petani dan nelayan sungai.
Kehidupan masyarakat Dusun Nanga Sungai hampir sama seperti masyarakat pada umumnya. Pagi hingga siang hari, mereka menghabiskan waktu di sawah atau ladang. Pulang dari lahan pertanian, mereka akan mencari ikan dengan cara di pukat sembari menyusuri sungai Embaloh untuk kembali ke rumah.
Ada yang menarik di dusun ini. Meski berada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, ternyata suku Dayak Tamambaloh yang menetap di Dusun Nanga Sungai memiliki bendera sendiri. Bukan merah putih, namun bendera dengan aneka warna. Seperti kuning, merah, putih, hitam, dan hijau. Bentuk bendera tersebut pun unik, memanjang dengan ujung berbentuk segitiga penuh untaian kain seperti untaian janur kelapa.
Menurut tetua warga bernama Baki’ Tali (kakek Tali), 72 tahun, bendera tersebut merupakan bendera adat yang selalu digunakan oleh penduduk dari suku Dayak Tamambaloh sewaktu menggelar acara adat, dan sudah digunakan sejak dahulu kala. Bendera tersebut berbentuk motif dayak di tengahnya, membentuk gambar hewan, buah, atau tumbuhan. Suatu bentuk penghormatan manusia terhadap lingkungan sekitarnya.
Pemilihan warna yang digunakan untuk bendera tersebut bukanlah asal comot saja. Kuning menggambarkan kemakmuran akan hasil pertanian. Merah sebagai lambang keberanian. Putih sebagai lambing ketulusan dan keputusan bulat yang tidak bisa dilanggar. Hitam sebagai lambang perjuangan bersama-sama hingga titik darah penghabisan. Hijau sebagai wujud kehidupan yang seimbang dengan alam.
Baki’ Leo (69) mengatakan ada dua bendera yang dimiliki oleh suku Dayak Tamambaloh. Yakni, Tambe Laki (bendera laki-laki) dan Tambe Bainge (bendera perempuan). Perbedaan antara bendera ini adalah, Tambe Laki memiliki ukuran lebih panjang dibandingkan Tambe Bainge.
Bila mereka memiliki bendera sendiri, bagaimanakah sikap mereka terhadap bendera merah putih? Lunturkah rasa nasionalisme mereka akan Indonesia?
Ternyata, mereka masih mengedepankan rasa cinta tanah air. Meski sudah memiliki bendera yang mereka gunakan secara turun temurun sebelum masa kemerdekaan, suku Dayak Tamambaloh di Dusun Nanga Sungai tetap menghormati bendera merah putih. Hal itu saya saksikan saat melihat upacara adat Perahu Tambe (perahu hias), yakni upacara adat pernikahan di saat mempelai pria beserta keluarga di hulu Sungai Embaloh menggunakan perahu yang dihias menuju rumah mempelai wanita di hilir sungai. Bendera merah putih tetap berkibar paling tinggi dibandingkan Tambe Laki dan Tambe Bainge.
Bahkan, dalam perjalanan saya menuju Desa Lanjak, daerah dekat perbatasan Indonesia-Malaysia, Minggu (3/7). Dari bak belakang mobil yang saya tumpangi, dengan penuh haru saya melihat kibaran merah putih yang sudah tercabik di ujungnya, tetap berada di ujung tiang di beranda Betang (rumah panjang) yang berjarak sekitar 300 meter dari jalan raya, meski bukan tanggal 17 Agustus.
Minggu, 17 Juli 2011
Embaloh, Sungai Kaya Bernyawa di ‘Benua’ ke-7 (2)

Bila Anda ingin melihat permata yang melimpah, datang saja ke Sungai Embaloh. Menyelamlah di jernihnya air sungai. Saat menyelam, buka mata Anda. Lihatlah bebatuan di dasar sungai. Bias sinar matahari yang masuk ke air sungai dan mengenai bebatuan, akan membuat bebatuan tampak seperti kemilau permata yang indah dan tak terhingga.
Kabut pagi masih menyelimuti Desa Benua Martinus, Sabtu (2/7). Selimut kabut yang saya sebut ‘paradiso benua ketujuh’ dikarenakan menghasilkan pemandangan indah di desa kecil sarat sejarah. Saya menginap di rumah kayu, tepat di pinggir jalan, samping lapangan sepakbola SD 02 Benua Martinus. Menurut indu’ (ibu/bibi) Clara, bangunan SD dan lapangan sepakbola itu dulunya adalah bekas landasan pesawat pasukan tentara Indonesia saat terjadinya GPRS-Paraku.
Mandi pagi di Sungai Embaloh merupakan sebuah keharusan. Maklum, saat tiba di sini, saya langsung menuju Dusun Nanga Sungai yang berada sekitar satu setengah jam berjalan kaki atau 30 menit bila menggunakan kendaraan roda dua, dari Desa Benua Martinus, untuk acara adat Mandaas (baca tulisan selanjutnya).
Menuju Sungai Embaloh dari rumah tempat menginap tidaklah memakan waktu yang lama. Sekitar 300 meter di belakang rumah. Cukup menyusuri jalan aspal dan mengambil jalan lurus berbatu di depan Koramil, melewati padang berpagar kawat duri, hingga menapak di bebatuan sungai yang memanjang di tepian sungai. Rimbunan tumbuhan di pinggir sungai, air jernih yang mengalir di bebatuan, suara kicau burung yang terbang bebas, menjadikan mandi pagi semakin semarak. Ditambah, ‘kecupan’ kecil di bagian tubuh dari keramahan ikan Sungai Embaloh.
Kayu besar yang terhanyut dari hulu sungai, tampak terdampar di atas bebatuan. Tidak hanya satu kayu, tapi, banyak. Kayu-kayu itu merupakan hasil dari abrasi yang terjadi di daerah hulu sungai, dan terbawa oleh air sungai. Hujan mengakibatkan arus sungai mengalir deras. Sedangkan komposisi tanah di pinggir Sungai Embaloh terdiri atas sedimen yang rapuh, hasil pelapukan kayu-kayu yang terdampar. Bila arus deras menghantam tanah di pinggir sungai, air menjadi berwarna kecoklatan karena bercampur lumpur. Satu daerah yang selalu berpindah akibat terjadinya abrasi adalah Dusun Nanga Sungai. Tidak ada yang mampu melawan kekuatan alam. Bahkan, aliran air sungai Embaloh yang tenang, seperti bernyawa. Secara perlahan, air sungai mengikis daratan di sepanjang aliran sungai.
Dusun Nanga Sungai yang saya datangi merupakan pemukiman baru bagi penduduknya. Sekitar 2008, satu persatu penduduk meninggalkan lokasi dusun mereka yang lama, yang berada sekitar dua kilometer di daerah hilir sungai. Menurut Baki’ (kakek, dalam bahasa Dayak Tamambaloh) Roreng (63), lokasi rumah yang ditempati masyarakat tersebut mulanya adalah pondok saat berladang. Tiang dari lantai rumah penduduk memang dibuat tinggi, sekitar 2-5 meter. Sehingga, setiap orang harus menaiki anak tangga untuk masuk ke rumah. Alasan penduduk membuat tiang tinggi tersebut adalah untuk terhindar dari banjir. “Jika air sungai meluap, bisa naik ke rumah,” ujar Baki’ Roreng.
Perpindahan penduduk Dusun Nanga Sungai itu bukan kali pertama. Berdasarkan penuturan Baki’ Leo (72), ini merupakan perpindahan yang keempat kalinya selama ia hidup. Selain disebabkan karena abrasi, perpindahan kali ini adalah anjuran pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu agar penduduk dapat bermukim di daerah pinggir jalan. Agar memudahkan transportasi masyarakat dan jaringan listrik bisa masuk. Namun, hingga saat ini belum ada satu tiang listrik pun yang tampak. Penduduk Dusun Nanga Sungai mengandalkan mesin genset untuk penerangan di kala malam. Itupun tidak semua rumah penduduk. Saya menghitung tak lebih dari 10 rumah yang memiliki mesin genset. Sedangkan di Desa Benua Martinus, nyala listrik berlaku setengah hari. Mulai pukul 17.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB.
Bahkan, jembatan gantung penghubung antara Desa Benua Martinus dan tiga dusun lain, yakni Nanga Sungai, Pat, dan Ulak Pauk, tampak mulai rapuh. Kayu jembatan gantung terlihat mulai lapuk. Tali kawat di kiri-kanan jembatan gantung, ada yang putus. Padahal, jembatan itulah satu-satunya sarana yang memudahkan penduduk tiga dusun untuk melintasi Sungai Tamao. Menurut penduduk Dusun Nanga Sungai M. Rayung, jembatan tersebut berumur belum genap setahun. Karena pengerjaan jembatan gantung berakhir sekitar September 2010.
Berdasarkan penuturan Rayung, jembatan tersebut dibuat dengan dana bantuan pemerintah daerah. Dari pengajuan Rp. 22 juta yang diajukan, kucuran dana yang disetujui dan diberikan ke masyarakat adalah Rp. 18 juta. “Sayang, baru setahun jembatan sudah rapuh,” sesal Rayung.
Bisa dibayangkan, bila jembatan gantung tersebut rusak dan putus, akses jalan darat penduduk dari tiga dusun bisa terganggu. Bila harus menggunakan sampan melalui jalur Sungai Embaloh, butuh tenaga super ekstra untuk melawan arus sungai menuju pusat kecamatan di Desa Benua Martinus.
Apalagi bila menggunakan perahu mesin, butuh dana besar untuk membeli bahan bakar. Seliter bensin di Benua Martinus mencapai harga Rp. 9.000.
Jumat, 15 Juli 2011
Saguer, Sambutan Khas di Tamambaloh (1)

Mobil berhenti di sebuah jembatan gantung yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki, Selasa (28/6) malam. Satu persatu, langkah kaki menapak di jembatan yang melintasi Sungai Tamao dengan panjang sekitar 10 meter. Saat dilewati, jembatan bergoyang dan papan kayu berbunyi ‘kretak’. Beberapa utas kawat di kedua sisi jembatan terlihat ada yang putus. Dengan penerangan lampu senter, tertangkap tulisan ‘tahun 2010’ di sisi kiri tiang jembatan, tahun penyelesaian pembuatan jembatan gantung yang terlihat mulai rapuh itu.
Waktu menunjukkan sekitar pukul 21.15 malam. Setelah menghabiskan 22 jam perjalanan darat dari Pontianak menggunakan mobil (Pontianak-Kapuas Hulu = ± 800 km. Kapuas Hulu-Nanga Sungai = ± 175 km), masih setengah jam berjalan kaki lagi yang harus ditempuh dari jembatan gantung, agar tiba di Dusun Nanga Sungai, Desa Saujung Giling Manik, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalbar.
Bayangan pohon tinggi di kiri-kanan jalan setapak, terlihat saat tertimpa sinar senter. Jalan tanah yang ‘dibaluri’ batu sungai, berbagi tempat dengan suburnya rumput. Beruntung, setelah sekitar 10 menit menyusuri jalan, ‘rute’ jalan kaki ini dipersingkat dengan datangnya jemputan motor yang siap mengantar ke Dusun Nanga Sungai.
Dari boncengan sepeda motor, saya menangkap bunyi-bunyian tabuhan alat musik tradisional khas Dayak, mengalun dalam sunyi malam. Tak berapa jauh dari sebuah pertigaan jalan dusun, bunyi itu semakin jelas terdengar. Asalnya dari sebuah rumah kayu bertiang tinggi. Bersambung langsung dengan rumah itu, ada sebuah panggung dengan lantai papan beratap terpal biru. Tempat para penabuh alat musik tradisional dan masyarakat yang berkumpul di rumah M. Rayung, tepat di ujung jalan sisi kanan.
Turun dari boncengan motor, saya disambut oleh lima perempuan tua yang masing-masing memegang gelas plastik dan seorang pemuda yang memegang nampan berisi sebuah teko. Mereka bernyanyi sambil menghentak-hentakkan kaki kanan di lantai, pada dua kayu yang tiap ujungnya diberi penyanggah kayu kecil sehingga berbunyi ketika diinjak, mengikuti tabuhan alat musik tradisional. Nyanyian mereka semakin kencang saat kaki saya menaiki lima anak tangga.
Inyum jo olongan, ipatiling-tiling
Inyum jo olongan, ipatiling-tiling
Tawak’u ikausang jo. Inyum jo rio-rio
Inyum ilanggak-langgakan, ilanggak-langgakan
Na’an pande iteakang
Bila diartikan dalam Bahasa Indonesia, nyanyian tersebut memiliki arti : “minumlah dan tuangkan ke mulut, miringkan sedikit gelasmu. minumlah dan tuangkan ke mulut, miringkan sedikit gelasmu. Habiskanlah bagianmu. Minumlah cepat-cepat. Minumlah hingga bergelegak-gelegak, bergelegak-gelegak. Tidak boleh dimuntahkan”. Nyanyian berjudul Inyum Jo (Ipatiling-tiling) itu merupakan nyanyian masyarakat Dayak Tamambaloh untuk menyambut tamu atau keluarga yang datang di dusun mereka. (Nyanyian yang diciptakan oleh dua warga Tamambaloh, Yeremias dan Damianus, mulai dikenal luas sejak 1980-an. Sebelumnya, hanya seruan ‘hoiya..hoiya’ yang diiringi musik tradisional masyarakat Dayak Tamambaloh untuk menyambut para tamu). Nyanyian terhenti saat mereka mengelilingi saya, menyodorkan gelas ke mulut, meminum isi gelas hingga habis, dan tangan kanan mereka mengusap-usap bahu saya. Minuman berbentuk cairan putih berasa manis dan agak sedikit kelat. Menurut Rayung, minuman tersebut adalah Saguer, air pohon Enau (Arenga pinnata) yang disadap. Masyarakat luas mengenal minuman tersebut dengan sebutan tuak. Bila ditambah sedikit ragi, minuman bisa mengandung alkohol dan memabukkan.
Saguer merupakan minuman khas Dayak Tamambaloh untuk para tamu yang datang. Selain minuman, biasanya disajikan pula kue kalame kaur, kalame suman, dan lemang. Setelah sajian dinikmati, tamu akan diajak Mandaria’ (menari).
Dayak Tamambaloh
Sungai Embaloh merupakan anak Sungai Kapuas yang mengalir dari hulu pegunungan Kapuas Hulu sepanjang sekitar 168 kilometer. Di sepanjang aliran sungai ini, hidup penduduk asli suku Dayak Tamambaloh. Mereka menyebut diri dengan sebutan Banuaka’, yang berarti orang kita. Selain itu, suku dayak Tamambaloh tersebar juga di sepanjang aliran sungai Labian dan Palin.
Mata pencaharian suku Dayak Tamambaloh adalah berladang. Mereka juga sangat pandai menangkap ikan di sungai. Seperti menjala, menyelam, dan Manyarakap (mencari ikan dengan tangan di danau atau kali). Namun, jangan coba-coba untuk menangkap ikan menggunakan racun tuba. Hukuman adat akan diberikan kepada mereka yang berani meracun ikan dengan tuba. Ikan hasil tangkapan akan diolah masyarakat suku Dayak Tamambaloh menjadi ikan salai (ikan yang diasap), jukut (ikan yang difermentasi), kerupuk, dan kerupuk basah.
Sebagai pencari ikan di sungai, tidak mengherankan bila setiap warga mulai anak-anak hingga perempuan tua bisa mengayuh sampan. Karena, sampan merupakan sarana transportasi yang sering digunakan untuk mengangkut barang dari dusun ke pusat kecamatan.
Tanaman yang tumbuh mendominasi tanah di sepanjang aliran sungai Embaloh adalah Enau. Bahkan, dalam catatan harian seorang pastor dalam buku ‘Hidupku di Antara Suku Daya’ yang ditulis Herman Josef Van Hutten, masyarakat setempat sudah memanfaatkan air sadapan sebagai minuman, saat pastor asal Belanda itu tiba pertama kali di sana, sekitar 1913.
Selasa, 17 Mei 2011
Naik Dango Suku Dayak Kanayant Saat Panen Usai
Bunyi gong yang ditabuh terdengar dari speaker di sisi kiri dan kanan betang (rumah panjang) Suku Dayak yang berada di atas bukit Desa Sadaniang, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Pontianak, Rabu (4/5/2011). Dari bawah panggung betang bagian kanan, keluar para penari yang mengenakan baju adat Suku Dayak lengkap dengan atributnya, mengikuti irama gong.
Tanpa alas kaki, penari menggoyangkan tubuhnya dengan indah. Dua tangan direntangkan, kemudian jemarinya bergerak memutar dengan lentik. Seorang penari pria di barisan depan rombongan penari, mengayunkan Mandau ke depan. Dengan mata menatap tajam, tiba-tiba ia meloncat dan berteriak “huih” dengan nyaring.
Tarian yang disuguhkan oleh rombongan penari dari 23 Kecamatan di wilayah Kabupaten Pontianak, menjadi daya tarik pengunjung upacara adat Naik Dango ke-26 itu. Mata mereka tak melepaskan sedikitpun gerakan para penari. Sesekali, pengunjung bertepuk tangan dan bergumam “wow” dengan pelan.
Adanya Naik Dango, membuat Desa Sadaniang yang semula sepi menjadi ramai. Meski berjarak sekitar 87 kilometer dari Pontianak, acara Naik Dango tersebut mampu menyedot ramai pengunjung yang berasal dari kampung atau kecamatan lain. Panas terik tak menyurutkan langkah pengunjung menapaki jalan tanah merah untuk ikut serta dalam prosesi adat Naik Dango yang sudah menjadi agenda tahunan.
Naik Dango sendiri merupakan upacara adat yang dilakukan oleh Suku Dayak Kanayant yang ada di Kalimantan Barat. Upacara adat ini adalah ucapan syukur kepada Sang Pencipta, atas berkat melimpah yang diberikan. Hasil panen tersebut biasanya disimpan di dango (lumbung) padi, yang sebelumnya didoakan oleh panyangahant (juru doa).
Biasanya, usai menyimpan padi dalam dango yang merupakan padi pilihan untuk dipersiapkan sebagai bibit, suku Dayak akan berpesta. Pesta ini dinamakan makant nasi barahu (makan nasi baru). Setiap rumah akan menyuguhkan makanan hasil panen untuk setiap tamu yang datang. Ini merupakan wujud rasa syukur atas panen dan berbagi rezeki untuk dinikmati bersama.
Biasanya, naik dango dilaksanakan setiap 27 April. Pelaksanaannya tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak yang ada di kampung-kampung. Namun juga mereka yang ada di kota dengan jadwal yang berbeda. Penduduk Kota Pontianak dari Suku Dayak melaksanakan naik dango berupa Pekan Gawai. Acara ini dilaksanakan mulai tanggal 18 - 25 Mei 2011. Silakan untuk datang dan menyaksikan sendiri acara adat ini di Betang Jl. Sutoyo Pontianak. Karena, Suku Dayak yang hadir sebagai peserta berasal dari semua kabupaten yang ada di Kalimantan Barat.
Minggu, 08 Mei 2011
Entikong, Nol Kilometer yang Diam
Masih terbersit dalam ingatan saya tentang ucapan pemandu yang menemani rombongan jurnalis di Kalimantan Barat, yang dipilih untuk meliput Keluarga Berencana di Kuching, Sarawak, Malaysia, pada 7 Juni 2007, lalu. Ketika itu, bis berhenti di depan sebuah warung di pinggir jalan Entikong, sekitar 50 meter dari border (pintu) pos lintas batas Indonesia-Malaysia, pukul 04.27 WIB.
Sambil menikmati sebatang rokok untuk menunggu pintu border yang dibuka pada pukul 05.00 WIB, raungan mesin genset dari belakang warung menjadi musik penghibur. Mata saya berkeliling memperhatikan sekitar. Banyak bangunan dari kayu yang terlihat baru berdempetan tak beraturan. Ruly, pemandu rombongan, yang menjadi teman ngobrol sambil mengepulkan asap di luar bis, berkata :
"Ini masih Indonesia. Kalau sudah masuk Malaysia, seperti ruang utama dan dapur," katanya, memberikan pengandaian.
Saya ketika itu masih belum tahu arti pengandaian tersebut. Ucapan itu hanya saya jawab dengan tawa kecil. Tidak ada gambaran sedikitpun tentang daerah Entikong yang berjarak sekitar 350 km dari Pontianak. Sebagai jurnalis baru yang ditugaskan dari kantor untuk ikut rombongan jurnalis dari semua media lokal ketika itu (saya terjun ke dunia jurnalis pertama kali pada Mei 2007), perjalanan tersebut merupakan perjalanan serba pertama bagi saya. Pertama kali melihat langsung daerah perbatasan dan pertama kali menginjakkan kaki ke Negara tetangga.
Tepat pukul 05.00 WIB, orang-orang yang menunggu di dekat border tampak bergerak. Pagar besi yang masih tertutup saat kami tiba, telah terbuka. Daun pagar bergerak perlahan ke arah dalam, ditarik petugas untuk memberikan jalan lebar kepada orang yang akan melakukan pengecekan paspor di kantor imigrasi Indonesia-Malaysia. Beberapa orang terlihat tak sabar dan saling dorong.
Saat urusan pengecekan paspor selesai, bis pariwisata yang mengangkut kami merayap pelan di jalanan Tebedu yang sudah termasuk dalam kawasan Malaysia. Perjalanan tanpa hambatan yang menggilas aspal licin. Sangat berbeda sekali dengan jalan aspal yang disusuri bis rombongan sekitar 7 jam dari Pontianak-Entikong. Penuh lobang di mana-mana. Saya jadi teringat ucapan Ruly tentang 'ruang utama dan dapur'. Saya mengangguk-angukkan kepala mengamini pengandaian tersebut.
Daerah perbatasan seperti tidak ditemukan pada peta Indonesia di meja kerja para wakil rakyat dan pemerintah. Kebutuhan dasar seperti listrik dan jalan yang baik kondisinya, masih belum dinikmati sepenuhnya oleh masyarakat di daerah perbatasan. Listrik yang selalu byar pet setiap saat, seolah hidup segan mati tak mau. Menurut Alex, seorang teman waktu sekolah menengah pertama yang menetap di Entikong, raungan genset menjadi music yang seolah tak pernah berhenti.
Pada 24 Oktober 2008, saya kembali mengunjungi Entikong. Ketika itu, saya mengunjungi pasar tradisional dan rumah susun sederhana untuk di sewa (Rusunawa). Permasalahan listrik yang saya jumpai ketika itu, masih seperti lagu setahun yang sudah lewat. Pedagang di pasar tradisional hanya bisa mendengarkan radio untuk mengusir kejenuhan mereka. Suplai listrik tak ubah seperti jelangkung yang nyala tak diundang, padam seenaknya. Sehingga, televisi tak bisa menjalankan tugasnya. Lebih parah di Rusunawa. Rumah yang diperuntukkan bagi para pekerja dan masyarakat berpenghasilan rendah di Entikong, tampak gelap gulita. Bangunan twin block yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 Juli 2007, tak berpenghuni. Cat hijau pada dindingnya terlihat sudah pudar. Bangunan tingkat lima yang tiap blok berjumlah 48 pintu dengan kamar tipe 21, tinggallah bangunan kosong bernilai Rp 9,63 Milyar.
Jikapun rumah warga sudah tersambung jaringan listrik, harus rela berbagi dengan warga lain yang kurang beruntung mendapatkan sambungan listrik dari PLN. Saya bertemu Alex pada 5 September 2010 lalu, saat melakukan perjalanan sebagai backpacer ke Brunei Darussalam-Kota Kinabalu-Kuching, dan sudah tidak berkecimpung lagi di dunia jurnalis.
Ia bercerita, listrik masih menjadi barang eksklusif di Entikong. Penerangan di rumahnya di kala malam diperoleh dari hasil 'nyantol' listrik tetangga. Tidak tanggung-tanggung, Alex menjadi orang ke-enam yang numpang kabel listrik di rumah tetangga. Jika siang hari, rumahnya bergantung sepenuhnya pada penerangan sinar matahari.
Tampaknya, perubahan pembangunan dan kebutuhan dasar masyarakat di Entikong tidak pernah beranjak dari titik nol. Seperti tulisan nol kilometer pada patok batas yang terbuat dari semen, yang menjadi pembatas antar Negara di daerah perbatasan. Nol kilometer yang tak bergerak ke mana-mana. Nol kilometer yang hanya bisa memandang perkembangan zaman dengan diamnya. Nol kilometer yang terbungkam, dan dihuni oleh para anak bangsa di beranda rumah kita.
Sambil menikmati sebatang rokok untuk menunggu pintu border yang dibuka pada pukul 05.00 WIB, raungan mesin genset dari belakang warung menjadi musik penghibur. Mata saya berkeliling memperhatikan sekitar. Banyak bangunan dari kayu yang terlihat baru berdempetan tak beraturan. Ruly, pemandu rombongan, yang menjadi teman ngobrol sambil mengepulkan asap di luar bis, berkata :
"Ini masih Indonesia. Kalau sudah masuk Malaysia, seperti ruang utama dan dapur," katanya, memberikan pengandaian.
Saya ketika itu masih belum tahu arti pengandaian tersebut. Ucapan itu hanya saya jawab dengan tawa kecil. Tidak ada gambaran sedikitpun tentang daerah Entikong yang berjarak sekitar 350 km dari Pontianak. Sebagai jurnalis baru yang ditugaskan dari kantor untuk ikut rombongan jurnalis dari semua media lokal ketika itu (saya terjun ke dunia jurnalis pertama kali pada Mei 2007), perjalanan tersebut merupakan perjalanan serba pertama bagi saya. Pertama kali melihat langsung daerah perbatasan dan pertama kali menginjakkan kaki ke Negara tetangga.
Tepat pukul 05.00 WIB, orang-orang yang menunggu di dekat border tampak bergerak. Pagar besi yang masih tertutup saat kami tiba, telah terbuka. Daun pagar bergerak perlahan ke arah dalam, ditarik petugas untuk memberikan jalan lebar kepada orang yang akan melakukan pengecekan paspor di kantor imigrasi Indonesia-Malaysia. Beberapa orang terlihat tak sabar dan saling dorong.
Saat urusan pengecekan paspor selesai, bis pariwisata yang mengangkut kami merayap pelan di jalanan Tebedu yang sudah termasuk dalam kawasan Malaysia. Perjalanan tanpa hambatan yang menggilas aspal licin. Sangat berbeda sekali dengan jalan aspal yang disusuri bis rombongan sekitar 7 jam dari Pontianak-Entikong. Penuh lobang di mana-mana. Saya jadi teringat ucapan Ruly tentang 'ruang utama dan dapur'. Saya mengangguk-angukkan kepala mengamini pengandaian tersebut.
Daerah perbatasan seperti tidak ditemukan pada peta Indonesia di meja kerja para wakil rakyat dan pemerintah. Kebutuhan dasar seperti listrik dan jalan yang baik kondisinya, masih belum dinikmati sepenuhnya oleh masyarakat di daerah perbatasan. Listrik yang selalu byar pet setiap saat, seolah hidup segan mati tak mau. Menurut Alex, seorang teman waktu sekolah menengah pertama yang menetap di Entikong, raungan genset menjadi music yang seolah tak pernah berhenti.
Pada 24 Oktober 2008, saya kembali mengunjungi Entikong. Ketika itu, saya mengunjungi pasar tradisional dan rumah susun sederhana untuk di sewa (Rusunawa). Permasalahan listrik yang saya jumpai ketika itu, masih seperti lagu setahun yang sudah lewat. Pedagang di pasar tradisional hanya bisa mendengarkan radio untuk mengusir kejenuhan mereka. Suplai listrik tak ubah seperti jelangkung yang nyala tak diundang, padam seenaknya. Sehingga, televisi tak bisa menjalankan tugasnya. Lebih parah di Rusunawa. Rumah yang diperuntukkan bagi para pekerja dan masyarakat berpenghasilan rendah di Entikong, tampak gelap gulita. Bangunan twin block yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 Juli 2007, tak berpenghuni. Cat hijau pada dindingnya terlihat sudah pudar. Bangunan tingkat lima yang tiap blok berjumlah 48 pintu dengan kamar tipe 21, tinggallah bangunan kosong bernilai Rp 9,63 Milyar.
Jikapun rumah warga sudah tersambung jaringan listrik, harus rela berbagi dengan warga lain yang kurang beruntung mendapatkan sambungan listrik dari PLN. Saya bertemu Alex pada 5 September 2010 lalu, saat melakukan perjalanan sebagai backpacer ke Brunei Darussalam-Kota Kinabalu-Kuching, dan sudah tidak berkecimpung lagi di dunia jurnalis.
Ia bercerita, listrik masih menjadi barang eksklusif di Entikong. Penerangan di rumahnya di kala malam diperoleh dari hasil 'nyantol' listrik tetangga. Tidak tanggung-tanggung, Alex menjadi orang ke-enam yang numpang kabel listrik di rumah tetangga. Jika siang hari, rumahnya bergantung sepenuhnya pada penerangan sinar matahari.
Tampaknya, perubahan pembangunan dan kebutuhan dasar masyarakat di Entikong tidak pernah beranjak dari titik nol. Seperti tulisan nol kilometer pada patok batas yang terbuat dari semen, yang menjadi pembatas antar Negara di daerah perbatasan. Nol kilometer yang tak bergerak ke mana-mana. Nol kilometer yang hanya bisa memandang perkembangan zaman dengan diamnya. Nol kilometer yang terbungkam, dan dihuni oleh para anak bangsa di beranda rumah kita.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)